hidupku adalah teka-teki, seperti matiku. nafsu berbalut duka sering menyeringai disulut amarah yang kian memuncak. hidupku adalah misteri, misteri dalam sebuah rahasia. ini bukan rahasia besar, tapi ini lebih besar dari pada rahasia agen FBI. jangankan kau, akupun tak sanggup untuk mengungkapkan, karena ini hidupku.
Ruas jalan menuju Magelang tertutup debu yang bertebangan keasana kemari mempengaruhi jarak pandang pengendara. Atap rumah putih karena abu, pohon-pohon bertumbangan juga karena abu. Maha dahsyat kekuatannya kali ini. Sampai kapan semuanya ini akan berakhir. Ketika Merapi mulai beraksi, semuanya ciut tidak ada apa-apanya kecuali berserah diri pada pemiliknya.
Beberapa hari suasana gelap, Muntilan seakan mati. Abu tak henti-hentinya turun. Masih saja terdengar gemuruh jum’at malam itu. Ketika harus dihadapkan pada kenyataan, kerikil, pasir dan abu vulkanik mengguyur dahsyat beserta awan panas yang enggan berkompromi lagi.
Ratusan orang harus meregang nyawa terpanggang diatas suhu rata-rata. Barak penuh pengungsi. Para lansia berjalan tertatih, anak kecil enggan tertawa lagi, ibu hamil hanya bisa berdoa, dan para lelaki sibuk berjaga dan waspada, akan ada apa lagi setelahnya?
Terketuk pun hati para relawan mulia untuk terjun mengurus mereka. Tak perlu dibayar, melihat mereka (korban) bisa tersenyum lagi adalah imbalan yang tak terhingga bagi mereka. Siang malam sibuk memantau, menyiapkan makanan, mengurusi kebutuhan mereka, menggalang dana dan logistic. Semua mereka lakukan hanya demi para korban tak berdosa.
Merapi masih mengeluarkan awan panasnya ketika saya meninggalkan Magelang. Hujan abu enggan berhenti meski sejenak. Tawa canda anak-anak kecil di pengungsian sekan melarangku pergi. Tak kuasa hati untuk beranjak, hanya doa yang selalu kuhatur agar semuanya lekas berakhir. Keretaku menjauh meninggalkan Jogjakarta, membawa cerita yang tak akan pernah aku lupakan. Semoga ada hikmah dibalik semua ini. Amin.
Hehehe…. Masih tak lupa dan wajib untuk dikenang. Kenapa wajib? Ya wajib lah, itu kali pertama gue sepanggung sama Marcela Zalianty, pertama kali juga di idup gue pas upacara dipimpin Olivia Zalianty, kerenkan????? So pasti keren, udah deh, nyesel lo kalo nggak ikut.
Pernah ngebayangin nggak telat sampai sembilan jam? Nggak usah dibayangin dah, bikin nggak semangat pokoknya. Tau nggak, dari tanahku tercinta Madura, Gue sama temen gue Hanip udah mbela belain berangkat malam hari menggunakan Ferry terakhir. Untung aja masih ada bus kota, kalau nggak terpaksa dah kita menggelandang ria di pelabuhan perak. Gue sih nggak masalah, tapi kasian budak satu ni, takut sakit. Hehehe.
Singkat cerita, bus kota melaju menelusuri Surabaya jam sepuluh petang 29 juni 2010. kantuk pun menyerang kami, untunglah 45 menit kemudian kami bisa turun dengan selamat di daerah kebonsari. Itu pun kami sempat terlantar sekitar setengah jam menunggu temanku yang menjanjikan akan memeberi tumpangan., malam itu.
Namanya Aditya tapi anehnya gue disuruh manggil dia Didi. Ya sudah lah sok, terserah. Nggak taunya lagi nih ya, ternyata si didi tuh ngajakin gue dan hanip nginep dirumah temennya yang nota bene gue berdua belum kenal sama tuh anak. Untunglah tuh anak yang gue kenal juga sebagai Aditya (nah loh aditya juga nama temennya) baik banget dan rela menjemput kami berdua. Makasih adit….
Keesokan paginya dengan menggunakan espass gue, hanip dan didi diantar ke bungur asih. Tuh kan baik bener nih anak, salut aku. Ternyata sampai disana yang datang hampir setengah, kemana yang lain. Gue langsung menghambur mengisi daftar kedatangan, dan pagi-pagi begini si hanip sudah dapat sentakan dari si coordinator gara-gara nggak bawa form pernyataan dan surat keluarga. Kapok koen le… mukanya langsung kikuk pasi, kasian juga, anehnya lagi kok malah gue yang ngejawab pertanyaan kakak koordinatornya? Apakah gue emang orangnya gak tegaan yah? Iyah, gue liat mukanya udah merah, senyam senyum mau nangis gitu. Kasian banget si anak magelang ini. Kasian juga jauh-jauh dari magelang dan gak diterima di Surabaya, tenang aja nip. Itu baru insiden pertama.
Insiden ke dua, buset dah si kakak koordinatornya sangar, penyemangat gitu, udah gitu baik banget dah, salut aku. Pernah ngebayangin nggak nungguin bis hingga sembilan jam lebih? Nggak pernah kan, makanya jangan sampai deh. Bosan bin Ngebetein banget tau. Katanya sih Jam 7 udah chabut ke Bandung, eh ditanya lagi jam sepuluh, ditanya lagi jam 12 sampe bosen akhirnya meraka para kontingen Surabaya diam tanpa kata menghambur dan bahkan ada yeng tertidur di bawah sinara matahari Surabaya yang menyengat. Komplit dah, ada yang kehilangan uang, sandalnya putus, boong sama ayahnya dan sebagainya dan sebagainya. Oh may god, ini jamboree jadi apa nggak yah, pikirku kala itu. Untung ada mall kecil, bolak-balik kesitu sampai lima kali muter-muter tanpa tujuan. Ehm.. menjemukan.
Finally bersama Mandala akhirnya kami berangkat, jarum jam menunjuk pukul setengah lima sore. Thanks God kami berangkat. Hanip langsung beringsut dikursinya, wajahnya keliatan banget Emosi dan lelah, bilangnya aja nggak. Bis membawa kami meninggalkan Surabaya, melewati gunung menyusuri lembah, sungai mengalir indah kesamudra bersama teman berpetualang. Salam Karya Tunas Nusantara…