Showing posts with label Cerpen Corner. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Corner. Show all posts

Sunday, March 6, 2011

Aku Hanyalah Seorang Gay dan Aku Seorang China (fin)

“Aku gay”, kata Andy. Pernyataan ini seperti palu yang tiba-tiba menghantam kepalaku. Aku tidak bisa berkata apa-apa, lidahku kelu, seluruh tubuhku terasa mati rasa. Baru 2 bulan yang lalu aku mengenal sosok ini dan aku mulai mempercayainya paling tidak sebagai teman, tetapi tiba-tiba dia bilang kalau dia seorang gay. perasaanku campur aduk. Merasa telah tertipu menyesakkan dadaku.

“Aku mengerti posisimu dan aku tidak menuntut apa-apa darimu. Aku ga mau semua ini terlambat seperti dulu. Mungkin aku belum cerita sepenuhnya padamu, tapi pacar pribumi yang membuat aku pindah kesini adalah seorang cowok. Kakakku tahu hubungan kami dan dia marah besar.

Aku dikurung di rumah seminggu dengan alasan sakit ke sekolah. Kakakku bahkan memukuliku dan tidak berhenti sampai aku bersumpah untuk tidak menjadi gay lagi. aku hanya bisa mengiyakan. Ternyata orang-orang di sekolahku juga saudah tahu. Pacarku itu adalah kakak kelas yang cukup popular. Karena ga tahan dengan ejekan orang-orang, akhirnya dia pindah ke luar kota. Sedangkan aku, harus tetap di sekolah dan siap tidak siap menerima semua ejekan dan diskriminasi teman-temanku karena kakakku ga mau memindahkanku. Itu hukumanku katanya.

Aku akhirnya pindah kesini karena desakan bibiku. Mereka baik, tapi mereka lebih mendengarkan kakakku. Aku pernah beberapa kali berencana untuk bunuh diri saja, karena aku sama sekali tidak pernah melihat hidup yang bahagia sejak aku kecil.”

Mendengar semua itu, aku hanya bisa terdiam. Tidak tahu harus berbuat apa. Antara kasian dan merasa dibohongi masih bekercamuk dalam hatiku. Karena tidak tahan lagi, aku akhirnya pergi dari tempat itu tanpa berkata-kata.

Ternyata, keesokan harinya, Andy tidak masuk sekolah. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya dan aku tidak peduli. Aku tidak mau berhubungan lagi dengannya atas segala kebohongan ini. tapi, tetap saja aku tidak bisa mnghilangkan pikiranku darinya. Aneh, sungguh aneh. Akhirnya kuputuskan untuk meneleponnya tapi sayang tidak diangkat.

Ini terus berlanjut sampai 3 hari. Keterangannya sih dia sakit. Aku akhirnya memberanikan diri untuk pergi ke rumahnya. Sampai di gerbang, aku bunyikan bel yang kemudian dibukakan oleh pembantu. Aku di suruh masuk ke rumah yang maha luas itu dan di suruh menunggu. Tiba-tiba kakaknya Andy masuk.

Mr. X : “Bibi… kenapa kau memasukkan pribumi kotor ini ke dalam rumahku?” dengan marah memanggil pembantu tadi. Aku merasa sangat sakit hati karena dibilang sebagai pribumi kotor. Aku benar-benar geram.

Pembantu : “maaf tuan, ma situ hanya ingin bertemu tuan Andy…”

Mr. X : “Oh gitu ya. Ternyata Andy sudah sapat teman kencan baru. Pergi kau dari sini homo bajingan. Jangan kotori rumahku dengan wajahmu yang kotor itu.” Kali ini aku merasa kalau orang yang satu itu sudah sangat keterlaluan.

Tirta : “Eh dengar ya, aku bukan homo dan aku bukan pribumi kotor. Aku bisa jadi tidak sekaya kau, tapi aku bukan seorang imigran yang datang ke Indonesia hanya karena tidak ada makanan di rumah asalmu. Dan satu hal lagi, jika aku dengar kau memukuli Andy lagi, aku tidak akan segan-segan melaporkanmu ke polisi.”

Aku begitu geram tapi sekalian aku puas telah meludahi langsung wajah kotor kakaknya Andy itu. Hari berikutnya Andy telah kembali sekolah. Aku bertanya kepadanya apakah kakaknya berbuat sesuatu yang buruk kepadanya. Tetapi dia hanya diam saja, seperti patung, tidak berkata-kata sama sekali. Sepertinya dia masih marah kepadaku soal kemarin dan aku minta maaf. Tetapi tetap saja dia diam seribu bahasa, secara khusus kepadaku.

***

Akhirnya SMA kuselesaikan juga. Aku tidak sabar untuk segera menduduki bangku kuliah. Dan, soal Andy, sejak kejadian itu, aku tidak pernah lagi berbicara satu katapun kepadanya. Aku juga tidak perlu mengantarnya lagi, karena setiap siang sudah ada supir yang siap menjemputnya. Di kelas 3, kami juga tidak sekelas lagi, jadi kami tidak pernah lagi berhubungan.

Sebenarnya setelah “masa diam” itu, aku merasakan lubang yang sangat dalam dalam hari-hariku. Aku merasa seperti kehilangan begitu banyak energi menjalani hidup. Tetapi aku berusaha menepis semua itu dan mencari kesibukan lain. Bulan berlalu dan tahun juga berlalu, kami hidup dalam diam.

Sebelum sekolah berakhir, aku berencana untuk bicara lagi padanya. Ternyata kesibukan akhir kelas 3 membuatku sama sekali tidak punya waktu dan ini berlanjut sampai pada akhirnya aku harus pergi ke Semarang untuk. Sehari sebelum berangkat, aku pergi ke rumah Andy untuk sekedar pamit dan minta maaf atas semuanya.

Di rumahnya ternyata hanya ada kakaknya. Tapi kali ini dia sungguh berbeda. Sikapnya sudah berubah, bahkan dengan ramah kakaknya Andy menyuruhku masuk dan duduk karena dia ingin bicara. Setelah kami duduk, kakak Andy memulai dan benar-benar minta maaf atas sikap kasarnya terhadapku. Aku juga minta maaf atas kata-kata kasarku.

Dia bercerita kalau aku benar-benar telah mengubah cara pandangnya terhadap orang-orang pribumi. “Aku memang begitu bodoh. Aku berharap lebih dengan menjauhi orang-orang pribumi maka akan memberikanku sedikit kesempatan untuk mengasihi diriku sendiri. Tetapi kamu datang dan aku sadar kalau aku juga tidak lebih seorang bodoh yang membodohi diriku sendiri. Aku sadar kalau tidak akan pernah bisa mengubah orang lain kalau diriku sendiri juga tidak pernah berubah. Aku juga sadar ternyata telah lebih kejam dari orang yang membuatku seperti ini dengan mengatasnamakan keadilan, mengeneralisasikan kalau semua orang adalah pembunuh, penganiaya, dan orang-orang bodoh yang munafik, dalam hal ini orang-orang pribumi.

Aku juga belajar untuk melihat berbagai macam perbedaan di dunia ini. aku benar-benar menyesal telah menghukum Andy dengan cara yang sangat tidak adil karena dia seorang gay. Aku tahu kalau disuruh memilih, Andy tidak akan pernah memilih untuk jadi gay. Tapi itulah kehidupannya dan aku sangat menghargai keputusannya karena aku tahu kalau setiap orang punya kekurangan masing-masing yang layak untuk dia tangisi sendiri.”

Aku benar-benar terharu mendengar cerinya kakak Andy ini. dia mengatakan kalau Andy telah kembali ke Jakarta dan kuliah disana. Tetapi dia tahu kalau aku akan datang ke rumahnya oleh karena itu Andy menitipkan surat kepada kakaknya untuk diberikan kepadaku. Aku benar-benar terharu dan ketika pamitan, aku tidak bisa menahan diriku dan memeluk kakak Andy. Sambil tertawa dan menangis, dia bilang kalau ini merupakan pelukan pertama yang dia dapatkan setelah 20 tahun ayah dan ibunya meninggal dan yang memeluknya untuk pertama kali adalah seorang pribumi.

Aku pamitan dan segera pergi ke tempat dimana seharusnya aku berada. Aku pergi ke tempat makan terakhir kali aku berbicara dengan Andy dan kubuka suratnya.

To Tirta

Aku tahu ketika kamu membaca surat ini, aku sudah tidak ada lagi. Aku benar-benar minta maaf karena telah menghancurkan hidupmu. Maafkan aku.

Aku masih ingat pandangan pertama kita. Itu momen yang tidak akan pernah ku lupakan dalam hidupku. Maafkan aku karena selama ini selalu menghindar darimu. Aku benar-benar tidak mau membawamu ke jurang kehidupan. Oleh karena itu aku mencoba untuk menjadi orang yang paling kamu benci, yang paling menjengkelkan agar kamu jauh dariku.

Aku tahu Della adalah mantan pacarmu, oleh karena itu ku dekati dia agar kamu benci kapadaku. Aku juga berteman dengan preman-preman agar kamu menjauhi aku. Aku juga bawa kamu ke rumahku agar kamu jera berhubungan denganku.

Dan akhirnya aku berhasil. Walau hati ini sakit, tapi aku senang. Aku harap surat ini menjadi segel terakhir antara aku dan kamu dan antara aku dan dunia.

Oh ya, satu hal yang belum kuceritakan kepadamu. Aku menulis ini ketika aku di rumah sakit dan tidak tahu kapan kamu akan membacanya, jadi kemungkinan ketika kamu membaca surat ini aku sudah tidak ada lagi. Aku menderita HIV sejak sepupuku yang berandal menularkannya ketika dia menyetubuhiku ketika aku masih 7 tahun. Dan ini adalah tahun ke-10 bagiku untuk bisa tetap hidup.

Aku berterima kasih bisa mengenalmu. Kamu memberi warna indah dalam hitam putih hidupku.

Permintaan terakhirku, kumohon, berikan mawar merah di makamku, sebagai tanda…………

Kalimat itu tidak memiliki sambungan lagi. Aku terdiam dan air mata meleleh di pipiku. Hatiku campur aduk. Aku segera ke rumah Andy karena aku tahu dia telah berbohong. Ketika melihatnya, aku langsung memeluknya dan tidak lagi bisa menahan tangisku. Aku bertanya dimana Andy dimakamkan. Dia member tahu dan aku segera kesana.

Andy, aku harap, setangkai mawar merah ini sebagai tanda persahabatan yang tidak akan pernah habis, bahkan oleh kematian.

Aku pulang ke rumah dan pergi ke Semarang untuk kuliah. Aku tahu hidup tetap berjalan dan aku akan mejalaninya dengan sebaik mungkin. Aku tidak pernah berpikir kalau aku adalah seorang gay. Tapi itu bukan masalah buatku sekarang. Banyak pilihan di depanku dan aku akan memilih yang terbaik untuk hidupku, menjadi diriku sendiri.

Note: pada akhirnya, semasa kuliah dan sampai sekarang, Tirta menjadi salah satu relawan aktif di LSM yang membantu orang-orang yang terkena HIV/AIDS untuk tetap bertahan hidup di Semarang.


Oleh: Ferry Silitonga

Post in: http://sosbud.kompasiana.com/2011/02/03/aku-hanyalah-seorang-gay-dan-aku-seorang-china-fin/

Date Post: 03 February 2011 | 12:01


Saturday, December 11, 2010

Semalam


Dan aku pun terjaga. Sedikit dalam kesadaranku yang masih rancu, kutarik selimut yang hanya menutupi kaki. Setelah benar benar aku bisa merasa, tak ada lagi hangat tubuh seperti beberapa jam yang lalu. Aku membalik tubuhku, hanya bantal dan selimut yang seharusnya menutup sebagian tubuh lagi, guling tergeletak. Kemanakah dia?

Entah kenapa aku menangis, entah kenapa aku merasa seperti dihianati, dimanfaatkan lalu ditelantarkan. Aku menangisi diriku, juga menangisi dirinya. Begitu kata hatiku saat ini. Kau dimana?

Kemarin malam, hujan tak ada henti hentinya. Kilatan putih saling sambar satu sama lain hingga gemuruh pun gempar memekikkan telinga. Segera ku menutup telinga rapat-rapat dengan guling. Yah, aku takut akan gemuruh guntur, pastinya aku akan mati seketika jikalau petir itu menyambar diriku. Itulah ketakutanku.

Rey menarik gulingku, sengaja. Entah kenapa aku selalu saja kalah, memang tubuhku tak segagah tubuhnya. Tapi, apakah yang gagah itu selalu menang? Nyatanya memang begitu. Dia berhasil menarik guling itu. Aku berusaha meraihnya lagi, saling tarik pun terjadi, tumpang tindih dan begitulah, layaknya anak kecil yang sedang bercanda kelewatan dan akan dilerai ibunda jika salah satu ada yang menangis.

Tawanya masih saja melekat. Aku mecoba meraih gulingku kembali, kutindih tubuhnya, gulingku sengaja ia tindih di bawah tubuhnya, aku berusaha merebutnya. Ia tertawa lepas, aku sedikit kesal. Aku pun sedikit tersentak kaget ketika kilatan cahaya menyambar dan Duar...... reflek aku menutup telingaku lekat-lekat. Segera aku merebahkan tubuhku dipojokan ranjang, kedua bantal pun sengaja Rey raih juga.

“kau tak ubahnya seperti seorang pengecut, tenanglah, kilat tak akan menyambarmu hingga kau hangus dan mati, masih ada aku di sini.” Katanya sok angkuh.

Aku mengencangkan tanganku menutup telinga, ia menarik tanganku. Satu pukulan kudaratkan tak sengaja di pipinya. Ia tak menyerah. Apa sih maunya, kesalku dalam hati. Kalau tidak hujan, mungkin ia tidak akan berada di sini dan aku akan sudah terlelap dalam mimpiku yang indah, mungkin.

Tak kuasa aku memukul ke segala arah, tanganku mengenai pipinya lagi-lagi. Ia tak menyerah, mungkin seperti inilah cara ia bercanda. Tanpa pikir panjang, aku ikuti kemauannya dengan main perang perangan seperti ini. Ia tertawa, aku juga ikut tertawa meskipun kesal. Kadang ada jeritan kecil, mengaduh dan saling pukul.

Setelah tiba-tiba kami saling pandang dalam posisi aku terlentang dan dirinya menelungkup. Wajah kami berdekatan, aku pun bisa merasakan deru nafasnya beradu dengan detak jantungnya yang tepat juga berada di atas jantungku. Seakan degupannya mengalun seirama semakin kencang dan semakin kencang.

Ia menatapku, mendekat dan mendekat. Tanganku seolah terkunci oleh tangannya yang memegang kedua telapakku. Bibir kami bertemu, aku memejamkan mataku, hangat dan akupun melayang.

Di luar hujan masih gemericik keras. Petir saling sambar. Seperti sudah peka, aku tak mempedulikannya lagi. Aku merasa aman, ketakutanku akan petir seolah lenyap. Gemuruhnya seperti gemuruh simponi penghantar tidur. Keringatnya membasahi tubuhku, tubuh kami. Tersadar seutas benang pun sudah tak melekat. Aku menikmati setiap gerakannya, entahlah, hangat dekapannya, dan anyir keringatnya. Aku mendesah, yah aku mencintainya. Ia sahabatku, tapi sekarang, ia lebih dari sahabatku. Aku mengerang, kami mendesah, memadu cinta mengayun waktu melibas dingin. Begitulah aku dapat menggambarkannya.

Malam begitu dingin. Hujan masih menyisakan rintiknya. Kudekap erat tubuhnya yang berpaling. Ia menolehkan wajahnya lalu tersenyum. Kami terlelap dalam pelukan, kami bermimpi dalam balutan. Saling merasakan, seperti tak mau terlepas. Seumpama langit yang tak berujung, aku pun mengharap demikian, kisah ini tak akan berujung.

Angin menghembus melalui jendela kamar menjelajah sela-sela pipiku. Sepoi dingin membangunkanku. Tirai berkibar terhempas angin. Di luar masih ada rintik. Kupandangi ranjangku. Tak ada, di mana ia yang membangkitkan amarah kemarin malam? Ketika kilatan petir saling menyambar dan bergemuruh megah. Hanya selimut terjeletak tanpa tubuh. Bantal tanpa kepala.

Kutekuk lututku, bersandar dipojokan ranjang. Rasaku benar-benar tertekan. Ada air mata mengurai. Tak tau kenapa. Hanya semalam aku sudah merasa memilikinya utuh dan kini ia meninggalkan diriku. Tanpa pesan dan pamit. Rey, kemanakah dirimu? Mungkinkah hujan dan petir telah menghempaskan dirimu dan menenggelamkanmu sengaja.

Kuseka air mataku, mencoba bertahan dalam kesendirianku kini. Semuanya telah berakhir, ataukah ini adalah sebuah awal? Aku harap seperti itu. Kusunggingkan senyumku kepada pagi yang rintik mengelabuhi hati yang gundah. Tidak, kau tidak mungkin pergi, kau mungkin butuh waktu untuk menjelaskan kenapa kau rela dan tega berbuat seperti ini padaku. Esok kau akan menemuiku. Memanggil namaku lagi. Bersamaku lagi dan tak lagi berpisah.

24 Desember 2005
Rifki Aris Sandi

Foto: lelaki terindah

Wednesday, July 14, 2010

Cerita Dari Jatinangor (Karya Tunas Nusantara) Part I


Salam Karya Tunas Nusantara…


Hehehe…. Masih tak lupa dan wajib untuk dikenang. Kenapa wajib? Ya wajib lah, itu kali pertama gue sepanggung sama Marcela Zalianty, pertama kali juga di idup gue pas upacara dipimpin Olivia Zalianty, kerenkan????? So pasti keren, udah deh, nyesel lo kalo nggak ikut.


Pernah ngebayangin nggak telat sampai sembilan jam? Nggak usah dibayangin dah, bikin nggak semangat pokoknya. Tau nggak, dari tanahku tercinta Madura, Gue sama temen gue Hanip udah mbela belain berangkat malam hari menggunakan Ferry terakhir. Untung aja masih ada bus kota, kalau nggak terpaksa dah kita menggelandang ria di pelabuhan perak. Gue sih nggak masalah, tapi kasian budak satu ni, takut sakit. Hehehe.


Singkat cerita, bus kota melaju menelusuri Surabaya jam sepuluh petang 29 juni 2010. kantuk pun menyerang kami, untunglah 45 menit kemudian kami bisa turun dengan selamat di daerah kebonsari. Itu pun kami sempat terlantar sekitar setengah jam menunggu temanku yang menjanjikan akan memeberi tumpangan., malam itu.


Namanya Aditya tapi anehnya gue disuruh manggil dia Didi. Ya sudah lah sok, terserah. Nggak taunya lagi nih ya, ternyata si didi tuh ngajakin gue dan hanip nginep dirumah temennya yang nota bene gue berdua belum kenal sama tuh anak. Untunglah tuh anak yang gue kenal juga sebagai Aditya (nah loh aditya juga nama temennya) baik banget dan rela menjemput kami berdua. Makasih adit….


Keesokan paginya dengan menggunakan espass gue, hanip dan didi diantar ke bungur asih. Tuh kan baik bener nih anak, salut aku. Ternyata sampai disana yang datang hampir setengah, kemana yang lain. Gue langsung menghambur mengisi daftar kedatangan, dan pagi-pagi begini si hanip sudah dapat sentakan dari si coordinator gara-gara nggak bawa form pernyataan dan surat keluarga. Kapok koen le… mukanya langsung kikuk pasi, kasian juga, anehnya lagi kok malah gue yang ngejawab pertanyaan kakak koordinatornya? Apakah gue emang orangnya gak tegaan yah? Iyah, gue liat mukanya udah merah, senyam senyum mau nangis gitu. Kasian banget si anak magelang ini. Kasian juga jauh-jauh dari magelang dan gak diterima di Surabaya, tenang aja nip. Itu baru insiden pertama.

Insiden ke dua, buset dah si kakak koordinatornya sangar, penyemangat gitu, udah gitu baik banget dah, salut aku. Pernah ngebayangin nggak nungguin bis hingga sembilan jam lebih? Nggak pernah kan, makanya jangan sampai deh. Bosan bin Ngebetein banget tau. Katanya sih Jam 7 udah chabut ke Bandung, eh ditanya lagi jam sepuluh, ditanya lagi jam 12 sampe bosen akhirnya meraka para kontingen Surabaya diam tanpa kata menghambur dan bahkan ada yeng tertidur di bawah sinara matahari Surabaya yang menyengat. Komplit dah, ada yang kehilangan uang, sandalnya putus, boong sama ayahnya dan sebagainya dan sebagainya. Oh may god, ini jamboree jadi apa nggak yah, pikirku kala itu. Untung ada mall kecil, bolak-balik kesitu sampai lima kali muter-muter tanpa tujuan. Ehm.. menjemukan.


Finally bersama Mandala akhirnya kami berangkat, jarum jam menunjuk pukul setengah lima sore. Thanks God kami berangkat. Hanip langsung beringsut dikursinya, wajahnya keliatan banget Emosi dan lelah, bilangnya aja nggak. Bis membawa kami meninggalkan Surabaya, melewati gunung menyusuri lembah, sungai mengalir indah kesamudra bersama teman berpetualang. Salam Karya Tunas Nusantara…


Bersambung dulu yah…

Monday, February 1, 2010

Gejolak


Telah aku mencoba untuk membesitkan diri dalam kebohongan, namun hal itu membuatku rancu dan tak karuan adanya. Aku hanya bisa bermain dalam kemunafikan terus menerus tanpa suatu kenyataan belaka. Tapi hanyalah ini yang bisa aku perbuat, menyakiti diriku sendiri.

Aku seakan terpaku dan tak bisa melakukan apapun. Seolah pesona tangguhnya mendekapku erat pertanda aku tak boleh mengingkarinya. Bahkan senyum itupun yang membuatku tak sanggup menuai kata menjadi kiasan pun juga berkata ingkar bahwa aku lebih baik untuk tidak mengaguminya.

Malamku adalah sebuah tangisan kelam. Rautnya yang selalu membayang membuatku muak tak bertubi. Air mata adalah saksi, bahwa dirinya telah membuatku sedemikian tanpa perlu dikasihi. Lalu, masih pantaskah dia untuk berhak mendapatkan tempat dalam tubuh ku yang mulai renta?

“Tentu saja pantas!!!”

Begitulah nuraniku menjawab. Bahkan nadanya terlalu nyaring dari pada teriakan srigala padang pasir yang melolong dalam gelapnya gurun berdebu.

“Ini kesalahan!!!”

Kemudian akal sehatku memberontak demikian.

“Pikirkan, kau tak mungkin memilikinya utuh, karena dia adalah jiwa yang seharusnya berbeda.”

Aku mulai terkulai akan kebingungan diriku, apakah akal sehatku yang sudah tak mau bertuan denganku atau sebaliknya nuraniku yang telah mengingkari tubuhku?? Kalau sudah begini, aku akan membuka pintu kamarku, menuliskan sesuatu pada buku usangku yang tebal karena coretan penderitaan atas nama cinta yang berbeda. Semua ini karena ulahnya, dirnya dan bukan karena kesalahan atas diriku untuk mencintainya.

Monday, January 18, 2010

Mencintai Rifan

Masih terbesit dibayang lamun ketika aku mengenalnya pertama kali. Perawakan lugu masa-masa SMA. Kenapa aku harus mengenalnya? Bukankah tak mengenalnya itu akan lebih baik. Aku bukannya tak mengerti, ini cinta. Tapi kenapa harus kepadanya, kepada ukiran indah ilahi yang tak terbantahkan dalam setiap helai pahatannya.

Hidungnya yang memagut indah dengan polesan bibir ranum dan dagu yang sempurna. Sorot matanya tajam, menyimpan getar dalam setiap pemandangnya. Rifan, begitulah nama indah yang telah disemaikan dalam dirinya yang sempurna diantara dadanya yang membusung gagah dan aroma jantannya yang memukau.

Disini, didasar hati nun jauh dalam nurani. Mencintainya sama halnya seperti memburu kuda bersayap putih. Terbang kesana kemari menentukan titik fokus, agar peluru tepat tertembus dalam jiwanya. Menggelepar jatuh dan pasrah.

Seribu harap kuhaturkan padanya. Demi cinta yang tak mungkin terbalas. Aku seperti air tenang, yang akan tetap menjadi bening meski keruh yang akan muncul tiba-tiba, ketika sebongkah batu dilemparkan kedalamnya dan memercikkan. Aku bahkan merasa tuhan tidak akan pernah tau tentang apa yang aku rasakan. Tentang lumpur yang ada didalam dasar nurani yang hanya akan menyeruak tiba-tiba. Tapi mengapa Tuhan masih saja menetapkan batas dengan dalil-dalilnya yang sempurna? Dan yang kubutuhkan hanyalah sebongkah batu. Agar air itu tak lagi bening hingga aku kuasa menunjukkan cintaku itu.

Rifan pernah mengurai kata denganku. Ketika indah menggantung dalam tatapannya. Bercerita tentang kehidupan masa sekolah penuh asmara. Mengejar dewi jingga berambut panjang bermahkotakan tahta seribu kerajaan. Idaman lelanange jagad.

Sambutan hangat dari sang dewi, melukiskan betapa besarnya keagungan cinta. Layaknya tersirat kisah adam dan hawa. Dipisahkan tapi tetap dipertemukan.

Terbesit dalam hati kala itu. Apakah ini api? Kenapa harus ada api dalam pertemanan ini? Hingga akhirnya aku sadar. Aku tak bisa melepaskannya. Bahkan untuk sekejap dari pandangan batin dan raga. Aku cemburu, yah aku dihatui rasa cemburu. Namun hal itu tak berlangsung lama. Keputusan meninggalkan dewi jingga membuatku tersenyum. Sesak dada kian memudar berevolusi dalam kesejukan jiwa tak terpatri.

Dan Rifan adalah Rifan. Lukisan indah penguasa jagad. Diperebutkan tanpa celah, dalam hatinya sedikit congkak. Kadang dia membisu dan sedingin lautan es utara penuh misteri. Bukankah lelaki seperti itulah yang memiliki aura sebenarnya. Menurutku.
Kesadaran itu memuncak. Kala aku harus berpisah dengannya. Bukankah seharusnya aku harus tau lebih dahulu, sebelum akhirnya aku harus mengalami hal-hal yang seharusnya bisa aku alami sebelumnya. Andai waktu bisa aku putar kembali.

Sekarang, aku diposisikan sebagai penonton dalam sebuah arena besar dalam gelora. Mengamati setiap detail langkah kehidupannya dari sisi ketidakberdayaan. Sejengkal adalah lebih berarti dari pada aku akan kehilangan jejaknya selamanya.

Bagai sang maestro, dirinya selalu kupuja. Ku banggakan dalam setiap ucapan meski dalam hati. Bayangnya terlalu nyata dalam sebuah kesemuan belaka. Menghias dalam setiap malamku. Terbang melayang bahkan dalam setiap kesendirianku kini.

Raut wajahnya tak tergantikan. Tak ada gerhana yang membuat gelap. Emosinya membara seakan membangkitkan gairah hidupnya yang sedikit kacau balau. Meski ayahnya tiada, dia ayah bagi adik-adiknya. Itulah yang kusuka darinya. Kedigdayan sempurna.

Ketika aku harus berpagut dalam pertemuan yang tak tersengajakan olehnya, namun sudah aku rencanakan sebelumnya. Mulut menjadi kaku. Entah harus berkata apa. Menatapnya dalam-dalam. Salah tingkah aku dibuatnya.

Lemah aku tersungkur. Menatap galau jiwa karenanya. Bayangannya acap kali menghantuiku dengan senyuman indah mempesona. Aroma tubuhnya yang kuinginkan, lengkap dengan dekapan mesra menghangatkan setiap tubuh kami. Bersatu dalam raga dengan cinta dalam jiwa.

Tidak. Dan aku pun tak tahu harus bagaimana. Aku pun pernah mencoba melupakannya. Tapi itu hanya membuatku menderita. Karena hanya dia satu. satu-satunya jiwa yang mampu menjangkitkan virus ronanya dalam nuraniku. Ini masalah hati, dan harus dengan hati pulalah virus ini disembuhkan. Hatinya, hatiku dan itulah yang aku inginkan.

Jangan pernah kau tanyakan kenapa? Kau hanya perlu sedikit mengerti kenapa aku begitu memujamu. Karena keagungan pahatan indah dalam setiap detail parasmu. Bukan. Karena aku sudah terlanjur mengenalmu. Mengenalmu melalui celah perasaan terdalam. Melalui setiap relung yang berpendar merasuki setiap pori tubuhku. Menginfeksiku.

Aku menginginkanmu. Merasakan setiap waktuku bersamamu. Menghiburku dan menggantungkan segala kesahku akan dirimu. Ku sandarkan setiap gundah hatiku dalam pundakmu. Akan kau seka setiap air mata yang mengalir dari mataku. Dan kau akan tidak terima ketika aku disakiti. Karena aku adalah jiwa yang paling berharga dalam hidupmu. Seperti aku menganggapmu yang paling berharga. Itulah yang aku inginkan.

Tak pernah luluh aku sedikitpun. Meski aku mulai membenci kehidupanku. Apakah aku hidup hanya untuk membenci kehidupanku? Bukankah kehidupan itu harus dijalani dan bukan untuk dibenci. Sungguh celakalah aku.

Jiwa ini selalu meronta. Kadang tertawa mengejek melihat batinku tersiksa atas tragedi cinta tak sempurna. Meski aku berusaha tersenyum dan itu hanya pelipur lara semata. Aku telah diperbudak. Diperbudak cinta sesungguhnya. Cinta akan dirimu Rifan.

Aku tak lebih hanya seorang pengecut. Bersembunyi dibalik perasaanku sendiri. Karena dusta adalah derita. Butuh keberanian mengungkap semuanya. Dan aku hanyalah pecundang, yang tak punya keberanian.

Sungguh aku muak dengan semua ini. Mencintai namun tak pernah memiliki. Aku ingin berteriak dengan ketegaran hati kepada penciptanya. “kenapa kau menciptakan dia, jika hanya membuatku didera derita tak bertepih. Enyahkan dia dari kehidupanku. Aku mohon enyahkan dia!” Dan aku pun tersungkur lunglai, menatap semuanya, Semu*.



*Ide cerita : Curahan hati seorang wanita yang mengaku sahabat karibku.

Rifki Aris sandee...

Thursday, March 12, 2009

indah dan menggugah

" ki ba ngun..." tiba-tiba Rifan membangunkanku. berat rasa meninggalkan mimpi indah yang memaksaku membuka mata.
"iya kenapa?" kesadaranku masih belum konstan. ku lihat rifan hanya mengenakan celan boxer. dada kekarnya, menyembul diantara kulit kecoklatan. jantan dan menggugah. Ups.... nggak pantas aku ngomong seperti itu. bukannya yang pantas menilai hal seperti itu hanya kalangan hawa, bukan adam? so, aku hanya beragumen, bukan mengagumi. hehehe... mengagumi! yah aku mengaguminya, mengagumi dalam hal aku ingin memiliki dada itu, kekuatan seperti dirinya, indah dan menggugah. aku ingin se atletis dia. shit! damn it! aku nggak mau kerempeng kayak ulet keket. uh... aku nggak mau!!!!!


to be continue....

bagi yang mau ngelajutin critanya, monggo pun.... plis yah.... jahahaha....

Sunday, February 8, 2009

Sebuah kisah


MAAFKAN AKU REY


Aku masih tak paham akan makna semua ini, semuanya teramat berarti dan aku tak mungkin melakukan hal yang dapat membuat semuanya berantakan. Persahabat yang telah lama kami jalin akan hancur begitu saja karena hal yang berkaitan dengan hati.

Andai kau tau, ketika kau datang dan mau bersahabat dengan seseorang seperti aku. Kau tersenyum dengan ulur sapa yang tak mungkin aku lupakan. Semuanya berubah, konsep kehidupan dan alurnya dalam satu kesatuan persahabatan.

Ini bukan masalah siapa dan bagaimana. Ini masalah kepekaan kasih sayang persahabatan dalam sisi sebenarnya. Sahabat bukan untuk memiliki, tapi bagaimana kita merasa kita memiliki dan dimiliki satu sama lain.

Kawan, aku dan dia, saat indah berbagi kisah dengan canda tawa yang selalu memenuhi hari-hari saat bersama, memenuhi ruang kelas dipojok selasar lantai dua, kawasan sekolah menengah unggulan. Aku ada karena dia ada. Itulah sejatinya pikiranku saat ini.

Pagi berlalu seperti sebelum sebelumnya, terik matahari kian menjadi diantara awan gemawan putih. Rey berteriak memanggilku dari koridor atas, entah kenapa aku memilih turun terlebih dahulu meninggalkannya.

“Rifky—” teriaknya.

Langkah ku terhenti, beberapa siswa sudah mendahuluiku dan beberapa lagi memilih arah yang berlawanan. Tak peduli, kali ini aku benar-benar mengacuhkan dirinya. Reyta, sahabatku.

Kakinya sudah terlatih, menuruni anak tangga dengan kekuatan berlari penuh, tak peduli jika sesuatu hal terjadi padanya. Reyta berlari menyusulku, melewati beberapa gerombolan siswa lain.

“Rifky, tunggu—” rambutnya terurai panjang mengikuti gerak irama derap kakinya. Akhirnya, tangannya berhasil menjangkau pundakku dan membuatku terpaksa menghentikan langkahku.

Aku mencoba menoleh, kutatap wajahnya penuh arti, sungguh aku tak paham dengan diriku akhir-akhir ini. “maaf, untuk kali ini aku terburu-buru,” aku segera menggelayut tasku kembali, sebelum aku benar-benar pergi meninggalkannya sendirian.

“Ky ­—“

Suara itu mengalir bersama angin, semakin jauh dan tak terdengar lagi.

♀♂

Di sudut kamar, aku terpaku, hanya dawai gitar yang bisa kupetik. Ku alunkan sebuah lagu, namun ternyata aku memilih untuk menghentikan semuanya dan membongkar laci lemariku. Hanya sebuah gambar,foto yang telah kita abadikan di puncak gunung bromo beberapa tahun yang lalu.

Akankah aku kehilangan semuanya? Senyum manisnya, tawanya, sikap hangatnya dan hatinya, meskipun hanya sekedar tempat curahan hati tak penting. Saat indah seperti ini, aku ingin sesegera mengulanginya. Menikmati dinginnya pegunungan tengger, hangat dengan batang-batang kayu terbakar sempurna.

Semuanya hanya ilusi, semuanya hanyalah kebodohanku. Kenapa aku tak kuasa meski hanya sekedar memberitahunya jika ada sesuatu hal yang menggangguku selam ini. Perasaan asmara telah mengkontaminasi seluruh jiwa ragaku dan hanya untuknya, tiada yang lain.aku mencitainya sepenuh hati tanpa hiasan gombal. Keberanianlah yang aku tunggu sekarang, semuanya.

♀♂

Aku menyusuri koridor pagi ini, sapa akrab masih sering kulontarkan kepada mereka teman-teman permainnku. Sesaat aku berhenti mendengar suara yang tak asing sama sekali. Ingin sekali aku tak melangkahkan kakiku, tapi, ini pilihan dan aku hanya ingin melihatnya bahagia.

“Rifky, tunggu.” Dia berhasil meraih tanganku, diseretnya aku naik beberapa anak tangga.

Wajahku terpasang kesal, namun senyum hati tak dapat terelakkan.

“kau kenapa? Akhir-akhir ini kau jarang menemaniku, meski itu hanya sekedar ngobrol,” kata-katanya sedikit berintonasi, inilah seorang sahabat sesungguhnya, yang ketika melihat sahabatnya berubah, mereka peduli.

“kau harus tau Rey, aku ingin meneruskan kuliah dan, aku harus lulus dengan good score untuk mendapatkan semuanya.” Aku beranjak.

“yah, aku tau, tapi—” suaranya menggantung.

Aku melemparkan tasku keatas meja dan memilih meninggalkan kelas untuk sementara.

“aku rindu kau Ky, rindu kebersamaan kita, rindu saat dimana kita berbagi cerita dibawah pohon mangga di belakang sekolah,” kata-kata itu menyihirku, seolah ada makna lain yang terkandung dari suaranya. Reyta berdiri kosong dibelakangku. “kau telah mengajariku banyak hal tentang kehidupan, kau mengajariku makna dari sebuah persahabatan, kau pernah bilang, sahabat bukan memiliki tapi harus bisa saling memiliki dan dimiliki. Disaat aku telah bisa merasakan, kini kau berubah dan aku merasa sahabat itu telah hilang, hilang akan hal yang aku pun tak tau apa penyebabnya.” Ada air mata di pipinya, ada kekecewaan dalam hatinya, dan aku merasakan semua hal itu. Dia berlari, aku masih terdiam. Baru kali ini aku membuatnya begitu kecewa, dan mungkin inilah satu-satunya cara agar dia membenci dan muak terhadap diriku. Tapi, bagian terdalam hati memberontak, memaksaku mengejarnya, ini semua kesalahpahaman dan aku pun tak mungkin rela kehilangan dirinya karena tingakah kekanak-kanakanku.

Aku melihatnya ditaman belakang sekolah, suasana sepi, karena bel sudah berdering. Reyta duduk terpaku dikursi kayu tua itu, tempat dimana kita sering menghabiskan waktu dengan canda tawa dan sejuta kisah duka cita. Tak kauasa aku melihatnya menangis seperti ini, tanpa pundak yang dapat menyandarkan kepedihannya. Dan pundak ini yang selalu ada, dan akan tetap ada untukmu seorang.

“kau tak pernah mengerti,” kata-kataku tiba-tiba muncul oleh mulut yang digerakkan hati. “seberapa besar aku menyayangimu,” aku hanya berdiri mematung.

Cericit nyanyian burung didahan , melompat kesana kemari satu sama lain. Beberapa daun rontok terhempas angin sepoi, dan mangga kecil yang menggantung bakal menjadi buah yang sempurna.

“kau harus tau, aku—“ suaraku berhenti dan tiba-tiba sesak.

Rey berdiri menatapku, sepersekian detik kemudian dibuangnya kembali wajahnya dariku.

“aku ingin kau mengerti rey, tak ada yang lebih aku sayangi kecuali kau, tak ada yang lebih aku pedulikan kecuali kau, dan aku mohon kau mengerti.” Sedikit airmataku menetes tak kuasa, lain hal aku khawatir dengan persahabatan ini dan Reyta akan benar-banar pergi meninggalkanku. Aku tak menginginkan hal itu.

“aku cemburu Rey, kau tau aku cemburu. Kau selalu menumpahkan semua ceritamu tentang Rifan tanpa mempedulikanku. Aku hanya bisa tersenyum, meski itu menyakitkan, dan kau tau kenapa? Karena aku tak sanggup untuk kehilangan dirimu, senyummu diatas segalanya bagiku dan aku ingin melihatmu selalu bahagia.” Hampir tiga tahun aku memendam semua ini, dan sekarang, kenyataannya aku telah mengatakan yang sebenarnya. “Rifan, Rifan dan Rifan tanpa kau pernah berpikir tentang aku yang terdiam tanpa keberanian ingin memilikimu, kau seakan tak peduli akan diriku.”

Reyta menatapku, tercekat mendengar semuanya. Air matanya membasahi pipinya, terlihat jelas. Kemudian mendekat dan meluncurkan sebuah tamparan atas pipiku yang sedikit basah. Tak peduli, berapapun tamparan yang ingin rey lakukan, asal aku tak kehilangan dia, sejam, sedetik pun. Reyta berlari, dan entah kemana. Aku hanya terdiam memaku, memandang hina diriku yang telah menodai makna persahabatan ini dengan hal yang tak seharusnya. Reyta sahabatku, akankah kau akan menerimaku sebagai Rifky yang dulu, Rifky yang selalu ada dalam keluh kesah serta tawa candamu?

♀♂

Aku tak melihatnya pagi ini, kelas fisika sudah dimulai. Bu wiji menerangkan beberapa dalil Newton, cara menerangkan sangat profesional dan mudah dipahami, tak ayal jika bu wiji menjadi guru faforit dan menjadikan pelajaran fisika bukan pelajaran yang sulit tapi bisa dibilang pelajaran yang mengasikkan dan mudah.

Hampir 90 menit aku mengalir bersama Bu Wiji, tiba-tiba tiga dari beberapa dari perwakilan osis memohon masuk ke kelas kami. Biasanya jika ada perwakilan osis masuk ke kelas itu berati mereka akan meminta sumbangan untuk mengadakan acara misalkan ketika tim basket sekolah kita melaju kebabak final dan membutuhkan dana pendukung acara tersebut. Tapi kali ini lain, tak ada kotak sumbangan yang mereka bawa, tapi wajah duka yang tersirat dari ke tiganya.

“assalamualaikum warohmatullah hiwabarakatuh” Nizar, salah satu pengurus osis memulai pembicaraan. Kelas terasa sedikit hening, dibelakang Dondik dan Deni masih terdengar bercakap-cakap.

“innalillahi waina illaihi rojiun,” andre diam sejenak, mungkin dia merasa tak kuasa untuk mengatakan hal yang sebenarnya, dan dia perlu mengambil nafas sejenak untuk kemudian dia melanjutkan, “teman kita telah pergi, Reyta mahta syahfitri telah pergi mendahului kita.”

Kelas menjadi ricuh, dan kali ini semuanya memang benar-benar kehilangan. Sosok reyta kini tiada lagi. Sekarang yang tersisa tersisa bangku kosong disampingku dan itulah kenyataannya, bangku itu yang akan menemaniku hingga aku lulus dan tak ada lagi sahabat itu. Reyta, kenapa kau rela meninggalkan aku sendirian?

Entahlah, ini mimpi atau kenyataan aku tak peduli. Rey— aku merasa tuhan tak adil, kemarin aku telah menyakiti hatinya dan sekarang, ketika aku belum sempat berucap sesuatu apapun, tuhan telah mengambilnya dariku. Tuhan, aku tak ingin kehilangan dirinya. Aku hanya bisa menatap kosong atas ketidak adilan ini, dan tak tau lagi aku harus berkata apa untuk mengembalikannya.

♀♂

“kakak jahat—” Keyta menghadangku ketika aku ingin masuk kekediaman reyta. Tak tau kenapa, tapi aku hanya ingin menebus semua kesalahanku dengan berada disampingnya hingga kita benar-benar berpisah.

“key, kau tak boleh begitu nak, biarkan dia masuk,” wanita paruh baya itu tampak begitu tegar, meski merah matanya tak dapat disembunyikan lagi.

“ma, jangan biarkan dia masuk, dia telah membuat kakak meninggal ma, jangan ma..” keyta menangis.

Ini memang salahku, aku telah merubah keadaan. Tak seharusnya ini terjadi, tak seharusnya tuhan. Aku hanya bisa menangis sekarang dan tak bisa membuat Reyta bangun kembali. Aku duduk dipojokan, diantara keramaian pelayat. Seandainya waktu dapat berputar kembali.

Tiba-tiba, keyta kembali menghampiriku, kali ini dia menyeretku menuju kamarnya melalui pintu samping rumahnya.

Aku tak mengerti apa yang dia inginkan, mungkin saja dia akan mengambil tindakan diluar dugaan. Dia tidak terima kakaknya meninggal dan dia memutuskan untuk membunuhku dengan caranya. Aku pasrah, Keyta keluar dan kemudian masuk lagi dengan sebuah buku coklat bermotif dolphin, hewan yang selama ini menjadi kesenangan Reyta.

“kau tau kak,” Keyta melemparkannya padaku.

Aku diam masih tak mengerti.

“dia selalu mengukir namamu disitu, betapa dia selalu mengaharpkanmu,”

Aku masih belum paham.

“coba kau baca, dan kau akan tahu semuanya. Reyta kecelakaan, dan semua itu karenamu.” Key meninggalkanku sendiri, dan kucoba membuka lembar perlembar catatan reyta.

Tak kuasa aku menorehkan air mata hingga membasahi lembaran-lembarannya. Tulisannya kabur dan hampir tak terbaca karena terbasahi dengan air mata penyesalan. Selama ini dia menunggu, mengharap diriku yang tak mengerti dan tak pernah mengerti.

Semakin jauh aku tesungkur, kenapa ini harus terjadi padaku? Ini salahku, dan sekarang aku hanya bisa melihat seonggok badan tak bernyawa yang tak lagi bisa tau, bahwa aku juga sangat mencintainya. Maafkan aku Rey.

♀♂

Kini,

Tak ada lagi canda tawa itu

Camar telah menjadi pelatuk

Tak ada lagi keindahan

Tercipta atas senyum seorang sahabat

Tatapan kosong seorang sahabat

Menyisakan cerita akhir persahabatan.

Bangkalan, 18 Desember 2008