Author
- Rifki
- hidupku adalah teka-teki, seperti matiku. nafsu berbalut duka sering menyeringai disulut amarah yang kian memuncak. hidupku adalah misteri, misteri dalam sebuah rahasia. ini bukan rahasia besar, tapi ini lebih besar dari pada rahasia agen FBI. jangankan kau, akupun tak sanggup untuk mengungkapkan, karena ini hidupku.
My Facebook
put your comment here
Followers
Tuesday, December 8, 2009
sendiri di Jogja
Monday, November 23, 2009
aku ingin tapi tak ingin....
seolah ada terali besar yang menghalangiku, padahal aku ingin keluar, menemuinya. bahkan dia masih tak mau peduli. sejujurnya aku ingin dia peduli. dan entahlah, sampai kapan ini berjalan. sampai kapan jeruji besi penghalang ini bisa terbuka. hingga aku tak perlu di persetubuh oleh tubuhku sendiri.
Friday, November 6, 2009
Catatan Kaki Rifki ; Cerita Dari Bali (27-29 Oktober 2007 / 27-29 Oktober 2009) Part II
“hey, ayo bangun , bangun,” terdengar suara wanita dari luar kamar.
Ku lihat sejenak kearah pintu dan subhanallah….. miss Inayah… ya allah kenapa pintunya nggak kalian tutup, seketika aku terhentak dan terbangun. Deni… Syam… huft… aduh miss inayah ngeliat ga yah muka kusutku, rambut acak-acakanku pas bangun tidur… jadi tengsin banget, menjatuhkan harga pasaran saja. Ah, enggak kalik, miss nya cuma menjalankan tugas saja, alih profesi, tukang membangunkan mahasiswa yang molor alias wake up per, hehehehe…..
Belom kelar juga si syam mandi, entah ngapaen dia di kamar mandi, yang jelas aku nggak mau tau dan nggak akan pernah mau tau, yang jelas suara gemericik air dari shower masih terdengar jelas. Takutnya nggak ada suara air, nggak ada suara gemericik, tau-tau tinggal beberapa potong tubuhnya yang dimutilasi leak. Hi… serem banget prend. Kalian tau nggak, katanya di kamar ku itu dulunya tempat asal-muasal suster ngesot ditemukan, makanya aku rada merinding, hiii…
“hoy, ayo lekas mandi,” seru Miss Inayah lagi dari depan kamarnya yang tak jauh dari kamarku.
“Rifki, kamu mandi disini saja, nih kamar mandinya kosong,” suruh Miss Inayah.
Ku sunggingkan senyumku, ah, enggak enak kalau ditolak, tapi…. Masak cowok mandi di kamar cewek. Ehmmmmm…. Ya udahlah nggak pa-pa, sekarang ini bukan masalah cowok sama ceweknya yang jadi masalah, kita dikejar waktu dan semuanya harus tepat.
Mati koen, kamar mandinya gak ada apa-apanya. Yang ada hanya bak besar yang aku ketahui namanya bath up, cermin, shower, tempat sampah, kakus, mana gayungnya buat mandi???? Ya sudahlah mungkin pake shower ajah. Bismillah.
Bolak balik ku putar kerannya, tapi???? Showernya kok nggak nyala yah?? Malah keran bagian bawah nya yang keluar, showernya nggak nyala. Tau nggak airnya yang keluar nggak sederas yang aku kira, kecil banget arusnya. Kapan nih bath up mau penuh kalau begini. Aduh-aduh….. lha trus gimana mandinya, gak ada gayungnya. Kutarik nafasku, ehm…. Ya sudahlah mungkin ditunggu bath up nya penuh baru nyemplung berendam, sabunan, berendam lagi dan selesai.
Air terus mengalir, tapi volumenya kecil banget. Aku mendudukkan diriku yang telanjang bulat mengamati arus air yang tak penuh-penuh. Aduh sampai kapan, sementara shower yang hampir mirip dengan microphone, hanya aku main-mainkan saja, aku goyang-goyangkan dengan harapan tiba-tiba mancur ternyata sia-sia. Hemmmmmmmm, gimana yah ini???
Kupaksakan diriku nyemplung ke dalam bath up meski air masih sedikit banget. Tak sengaja punggung belakangku menyandar ke kran yang mengalir tadi dan what’s up bro, tiba-tiba showernya menyemburkan air deras banget. Aku tersentak, kaget dan mengucap alhamdulillah, akhirnya aku bias mandi juga. Tapi, kok nyala sendiri yah?? Leak? Ah bukan, itu hanya halusinasi saja. Aku amati tombol-tombol diantara kran-kran itu dan ternyata, untuk memfungsikannya hanya menekan tombol tengah itu ke bawah, dan tadi itu kebetulan punggung belakangku tang menekannya secara tidak sengaja. Hem… tuhan memang masih saying kepadaku, masalah mandi saja Dia masih menunjukkan mukjizat-Nya. Hahaha, aku tertawa dalam hati sambil memain-mainkan tombol rahasia itu. Dasar Rifki tolol, goblok dan katrok banget, begini saja nggak bisa. Astofirwo…
Huft, akhirnya, keluar kuga dari kamar mandi. Kejadian itu hanya bikin malu diri sendiri saja. Gimana entar kalo diajak nginep ke Hotel Hilton? Yang ada malah bingung, mana yang kamar mana yang lobbi? Bisa-bisa tidurnya nggak dikamar malah di Lobby. Hahaha…..
Setelah makan pagi dan check out dari hotel, kami ditemani tour guide kami dengan cerita-cerita tentang bali, bail dan bali dalam perjalanan kami menuju HPI atau Himpunan Pramuwisma Indonesia…. Hehehe, salah ding, Pramuwisata maksudnya. Namun sebelum ke situ, kita singgah di galeri galuh yang berada di kabupaten Gianyar. Gianyar kota seni, begitulah maktub Kabupaten Gianyar yang memang memiliki potensi seni tinggi. Pusat dari art di Gianyar adalah UBUD, sampai sampai Julia Robert rela jauh-jauh dari Amerika untuk syuting di sini. Maka dari itu, kita harus bangga punya Bali. I Love Bali Forever…
Selain menjual batik dan souvenir khas bali yang tentunya tanpa mengindahkan hukum tawar menawar, galeri galuh juga menghadirkan sebuah komplek bangunan miniatur rumah adat bali asli, bukan palsu. Uniq dan menggairahkan naluri narsis kami. Kapan lagi aku dan kawan-kawan mau menyalurkan bakat foto geniknya kalau tidak sekarang. Hahaha, satu dua tiga senyum…… Cekrek…. Cekrek sampai puas…..
Sejam kita di sana, dan aku pun tak membeli segelintir barang juga. Ehm…. Bokek men, maunya beli tapi, aku Cuma punya kartu kredit dan di dalam nggak nerima kartu kredit atas nama bank pasar harian. Hahaha…
Entah dimana aku sedikit tak paham, akhirnya aku dan rombongan sampai juga di kantor HPI Bali. Tak begitu besar dan tak begitu kecil. Hanya ada segelintir orang yang menyambut kita dengan senyuman merekah. Om suawasti astu bli…. Om santi santi santi nakal om… minta permen karet gelang… om… wkwkwkwkwkwkwkkkk
Intinya yang baru dibicarakan adalah mengenai Pramuwisata di Bali. Sedikit sedikit aku dapat ilmu lagi. Ternyata kebanyakan Guide itu berbahasa Indonesia, Inggris, Jepang, Korea, Mandarin dan Sekarang Pramuwisata yang dicari dan memang jarang ialah pramuwisata berbahasa Spanyol, Perancis, Italia dan Belanda. What?? Belanda?? Nggak salah dengar? Hahaha, semoga usahaku nggak sia sia belajar Bahasa Belanda, besok-besok bias jadi Pramuwisata di Bali, berkecimpung dengan Bule Nederland dan dapat wanita Nederland juga, asyikkkk…. Ik ben zo blij, mijn vriends…
Hahahaha….. kita ke UBUD…… tepatnya ke BCC, Bali Classic Center. Kok nggak ke Ubud nya sih??? Aku kan pengen ketemu Janeth dee Nafie seorang Australia yang telah menjadi warga Negara Indonesia dan menetap di Ubud serta penggagas Ubud Writers and Readers Festival yang diadakan setiap tahunnya. Dalam event ini seluruh penulis terkenal dunia berkumpul termasuk penulis-penulis muda dari seluruh dunia. Selain Janeth aku juga pengen ke Desa Lothtunduh, tempat Dewi “Dee” Lestari menggambarkan sosok Keenan dalam “Perahu Kertas” nya. Kenaan, Ludhe, Poyan, Jenderla Pilik dan Pangeran Alit. Aku pengen banget tau Lothtunduh sebenarnya.
Tapi, ya sudahlah, kelak saja kalau aku punya kesempatan kesini sendiri, aku akan kemari lagi. Di BCC kami di sambut dengan tarian penyambutan yang di sebut tarian Melasti. Setelah itu kami mengikuti wanita-wanita cantik bali itu beserta rombongan lelaki penabuh gending bali yang khas dengan udeng di kepalanya. Sekarang guide kami sedikit lucu, namanya bli wayan, wayan kulit atao wayan golek yah???
Kami digiring ke dalam sebuah bale yang sudah didesain dengan ornamen-ornamen khas bali. Disini kami disuguhi sebuah tarian bali yang ditarikan oleh dua orang putrid cantik khas dewata. Matanya mendelik-mendelik menakutkan tapi cuantik buanget. Sumpah aku mau pacaran sama dia… hehehe.
Lima belas menit kemudian kami digiring lagi menuju tempat untuk melihat tarian barong. Tak jauh dari situ terdapat sebuah panorama pedesaan yang mencerminkan kehidupan masyarakat bali pedesaan yang telah didesain sedemikian rupa dengan gadis-gadis bali yang memang telah dipersiapkan untuk menempati posisinya seperti gadis dipojokan itu yang sedang membuat canang (wadah sesaji yang dibuat dari janur) di dalam bale bengong. Tapi saying, di sungai kok gak ada gadis yang bali yang mandi yah?? Yang ini mah kurang lengkap rasanya, kok yang wajib dihilangkan dan yang sunnah diwajibkan? Bli-bli, gimana sih. Hehehehe..
Akhirnya kami tiba di sebuah panggung pertunjukan yang didesain seperti tribun langkap dengan meja-meja dan kursi yang tertata mewah. Dari sini kami disuguhi tarian-tarian khas bali yang indah dan mengagumkan. Selain menikmati pertunjukan, kami juga bisa menikmati santapan nusantara yang ditawarkan kedai-kedai makanan disekitar tribun.
Tak puas rasanya jadi penonton, akhirnya aku pun ikut andil turun ke panggung ditemanu penari yang aduhai molek sekali. Sumpah molek banget lah… ehmmm baunya wangi…. Aku menari sebisa mungkin meski tak selihai wanita cantik ini. Ku tatap wajanya, pagutan indah hidungnya, bibir merahnya, tubuhnya, akh….. tuhan shang hyang widi, ampuni aku…. Wanita ini sungguh sayang untuk dilewatkan.
Begitulah, hingga waktu pun mengharuskan aku dan rombongan beranjak. Lagi-lagi waktu, kenapa sih kita harus diperbudak oleh waktu?? Huft. Gumamku. BCC meninggalkan kesan mendalam bagiku, kalbuku dan ragaku seakan tertinggal disana. Aku berharap kelak aku akan menemukan gadis bali yang indah dan lembut sepertinya. Aku akan tinggal di Ubud, desa sejuta seni. Ubud…. Wait me for a moment. And I’ll come back.
Tuesday, November 3, 2009
Catatan Kaki Rifki ; Cerita Dari Bali (27-29 Oktober 2007 / 27-29 Oktober 2009) Part I
Sunday, October 18, 2009
Amerika dan Mimpi
Amerika Serikat, wow... Amerika Serikat Guys, Aku pasti bisa kesana!! itu yang selalu terngiang dan tetanam jauh dalam hati, bahwa suatu saat aku pasti bisa menginjakkan kakiku diatas tanah negeri adi daya itu. Sebuah mimpi yang pastinya telah merenggut emosiku untuk meraihnya. sebuah semangat yang selalu menggairahkanku untuk melakukan mewujudkan keinginanku.
Statue of Liberty, Melting Pot, Salad Bowl, Hollywood and Havard University. Dan itu semua yang saya sebutkan hanyalah sebagian kecil dari Icon America sebagai negara superpower dan tangguh serta utuh sebagai negara Adi Daya. Liberty adalah symbol selamat datang, sebuah symbol kesejahteraan dan kebebasan, bahwa amerikalah tempat hidup yang sesungguhnya....
Really, aku merindukan Amerika, meskipun sedikit lebbay, tapi memang kenyataannya begitu. Mau berangkat kesana, tak ada dana yang cukup. Tak mau lah aku jadi illegal dengan membawa dana pas-pasan. Jadinya aku iseng-iseng ikutan DV-Lottery (Green card) meskipun kenyataannya gagal, :-). Aku hanya ingin benar-benar disana, menetap dan bersekolah (kalik aja di havard, Amien..) serta dengan santai dan nyaman aku dapat menikmati Amerika seutuhnya. hehehe... Pastinya dengan tetap membawa almamater kebangsaanku, yakni Indonesia Raya yang ku banggakan.
Aku yakin, bukan hanya ke Roma saja yang banyak jalan untuk kesana, ke Amerika pun juga.keyakinan dan usaha yang total akan membuahkan hasil yang maksimal. Dan Amerikalah yang menginspirasiku untuk berani bermimpi. "bermimpilah, karena tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu." begitu kata Mas Andrea hirata dalam novelnya, Sang Pemimpi.
Thursday, October 15, 2009
Fajar
Ternyata, Aku hanya terlalu pias, terlalu memujanya, keindahan dirinya. Aku relakan semuanya hanya untuk dirinya. Tak kupedulikan keegoisannya, tak kupedulikan sisi jelek yang jelas jelas sudah terpampang rapi. Yah, kupikir ini saatnya, sudah cukup aku mengagumi keindahannya yang kadang-kadang membuatku kaku dan ngilu dalam pikiranku.
Di ufuk masih fajar, tapi kenapa dalam hati kurasa sudah beranjak senja? Apakah ada penghalang dalam sinar fajar yang seharusnya terang? Tak ada lagi suara kicau burung merdu, menari dan bedericit indah diantara ranting mangga kecoklatan. Hanya suara gagak yang mengacau atmosfir senja serta sayap teguh kelelawar binatang malam.
Ilahi…. Aku rapuh.
Ilahi….aku ingin fajar, bukan senja. Hilangkan penghalang itu, pembatas diantara aku dan dirinya. Buat dia mengerti, ada cinta yang tersakiti dibalik bilik kecil dipojok selasar hati jauh dipedalaman nurani, yang hanya untuknya, untuk dirinya.
Wednesday, October 7, 2009
Cincinku... (Catatan kecilku, 29 Agustus 2009)
Berawal dari cincin. Hilang dan semuanya hilang. Entah, karena kecerobohanku. Yah, aku ceroboh bahkan sempat aku hampir terjatuh dari kereta tadi pagi saat cincin itu terlepas dari jemari tanganku.
Bukannya aku berlebihan, tapi ini kenyataan. Benda tak bertuah itu menurutku bertuah. Aku juga yakin, pemiliknya hanya aku dan dia. Cincin yang sengaja aku buat sendiri atas bantuan ayahanda temanku, pak mursid. Telah aku ukir namanya dibalik perak kecil yang seharusnya aku jaga, dan seharusnya benda itu ada di jemariku sekarang.
Ketika aku harus mengulum rindu, ketika aku bermimpi, membayangkan dirinya. Hanya cincin itu yang tau, keluh kesahku, cintaku, semuanya bahkan malam indah yang dulu membuatku muak meskipun indah.
Cincinku..... tiga belasku..... kemana dirimu................ seharusnya kubiarkan saja kau mendekam indah diantara jejalan isi lemariku yang berantakan. Tak usah aku membawamu kesana kemari apalagi keperaduanku yang baru. Aku menyesal tak bisa menjaga dirimu. Yah, aku tau aku menyesal dan memang hanya itu bekas dan kenang-kenangan masa-masa ambigu antara aku dan dia.
Kemarin terakhir atas pertemuan yang tidak tersengajakan, aku bisa jelas melihat cincin itu di jemarinya. Hingga pun aku menyunggingkan senyum ”masih kau pakai juga.” ah, aku gila, gila akan semuanya. Cincin, dia, dan semuanya. Apalagi sekarang, ketika cinta tak tersampaikan, aku mulai muak. Muak dan muak.
Dulu diary yang kubakar, kemarin cincin, sekarang wanitaku, putri kecilku, adindaku dan semoga esok bukan engkau yang mulai pergi. Cukuplah aku disini melihat tingkah polahmu dari jauh. Jangan pernah pergi, jangan. Dan jangan marah jika aku mengatakan, cincinku hilang, aku ceroboh. Jangan.
Time
Popular Posts
-
Jika anda berkesempatan berkunjung ke Negeri Belanda , mungkin hal yang pertama anda lihat selain kanal dan kincir angin adalah kondis...
-
Tuhan, dimana letak kesalahanku? Ketika hati sudah tertambat, ketika rasa itu tumbuh, seolah kau lah yang mempermainkanku. Kau beri aku k...
-
kenapa malam begitu cepat kenapa tuhan tak mengetahui aku takut akan pagi hari ini karena aku tak sanggup menderita seolah siang terlalu...
-
Tepat pukul 15.45 bis tiara mas resmi membawa kami berpelesir ke pulau bali. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga belas jam, ...
-
Dames en Heren dank U well.... akhirnya, aku datang juga nih buku, Negeri van Oranje... ik houd het, jahahaha.... sok ngebelanda gitu yah ak...
-
“Aku gay”, kata Andy. Pernyataan ini seperti palu yang tiba-tiba menghantam kepalaku. Aku tidak bisa berkata apa-apa, lidahku kelu, sel...
-
dasar wanita... kalo enggak matre, ya kemayu. kalo enggak bertingkah ya pilih-pilih. yang cakep lah, kaya lah, tinggi putih bersih kayak sap...
-
aku inginni dia dia yang berbaju biru itu pemilik senyum indah itu tubuh cadasnya aku tak ingin yang lain terlena aku dibuatnya entah kenapa...
-
Saatnya lo tunjukin... ayo guys teman teman semua... kembali di buka kembali di gelar, kompetisi blog bersama nuffic neso indonesia dan dag...
-
aku terlalu lemah untuk melawan, entahlah. sakit, air mata ini tak pernah ada habisnya. aku tak menyalahkan apa dan siapa, inilah memang ya...
Blog Teman-teman ku juga
-
Surat Suara Tanpa Angka12 years ago
-
25 November 201312 years ago
-
Dead Space 2 Full version12 years ago
-
Drakensang Online CBT Begins Aug 12!13 years ago
-
-
-
-
What is Swine Flu?17 years ago
-
tak ada judul yang cocok17 years ago
-
