Wednesday, May 19, 2010

Kau dan Diriku

Aku masih tak paham akan semuanya ini, benar tak paham. kenapa ini terjadi padaku, apakah kau tak mempunyai pelaku lain untuk kau sakiti? memang, aku bukan siapa yang harus kau jaga perasaannya, aku bukan siapa yang harus kau pedulikan, dan memang hanya aku yang tau dan merasakan. Kau hanya tersenyum simpul, tak berkelakar dan menunjukkan keangkuhanmu yang sesungguhnya itu buatku, diriku.


Aku bangga pernah mengenalmu sebagai seorang yang patut aku kagumi. Aku pun akan berjingkrak girang ketika tersebar kabar indah tentang dirimu dan bahkan hati ini gunadah ketika semuanya berubah. begitu setianya diriku akan dirimu yang ternyata kau benar-benar mencampakkan diriku.


Aku bukan Bola, Jangan kau tendang seenak udelmu. aku cemburu, aku menderita, semua ini karena dirimu. betapa bodohnya diriku yang selalu memikirkanmu. seandainya aku bisa membuka lubuk otakku sendiri dan membersihkan pecahan berantakan tentang dirimu.


Entahlah, aku tak bisa berkata apa-apa, aku kelu, akan diriku, akan dirimu yang ku puja dan ku sanjung. ini rahasia ku, dan mungkin juga rahasismu.. aku mencintaimu, selamanya,lebih dari yang kau tau... bodonya aku mencintai dirimu!!!


Sunday, April 18, 2010

Sepeda dan Belanda



Jika anda berkesempatan berkunjung ke Negeri Belanda, mungkin hal yang pertama anda lihat selain kanal dan kincir angin adalah kondisi jalanan Belanda yang ramai dengan para pengguna sepeda. Jangan heran, ada sekitar 16 juta sepeda di Belanda, jumlah yang hampir sama dengan dengan jumlah penduduknya.


Terlepas dari keprofesian dan jabatannya, satu dari setiap punduduk Belanda memiliki sepeda. Pekerja bawahan sampai kantoran juga pemerintahan semuanya bersepeda. Mereka mengayuh pedalnya setiap pagi untuk pergi ke kantor, sekolah juga pasar. Bisa di bayangkan, rata-rata orang Belanda mengayuh sepeda sejauh 40 Km pulang-pergi. Lumayan juga bukan?

http://farm1.static.flickr.com/189/459555893_1c4a33130c.jpg

Bersepeda adalah pilihan yang murah dan mudah bagi warganya. Memilih menggunakan bus dan trem maupun kereta api adalah tidak murah, begitu juga mengendarai mobil yang tentunya lebih mahal. Kecuali jika jarak tempuh cukup jauh atau cuaca yang tidak mendukung. Dan lagi, pilihan menggunakan bus dan trem adalah daya jangkaunya yang tidak bisa menjangkau jalanan kecil yang hanya bisa di jangkau dengan bersepeda atau berjalan kaki.


Selain murah dan mudah, bersepeda adalah suatu kegiatan bertransportasi yang menyehatkan dan ramah lingkungan. Mengayuh sepeda sambil menikmati udara segar Belanda, hal ini lebih menyehatkan dari pada duduk di kursi bus atau trem setiap hari tanpa melakukan gerakan mengayuh. Selain kendaraan bermotor juga mencemari lingkungan karena asap yang dikeluarkan menyebabkan polusi. Dengan sepeda, hal tersebut tidak perlu dikhawatirkan. Sepeda adalah model alat transportasi yang tidak membutuhkan bahan bakar dan tidak rentan dengan naik turunnya harga minyak bumi di dunia dan pastinya ramah lingkungan.

Peran serta pemerintah akan penduduknya yang gemar bersepeda ditunjukkan dengan membangun jalur khusus bagi pengguna sepeda. Seperti jalur Buss Way di Jakarta, kendaraan selain sepeda tidak boleh melintas di jalur ini. Kenyaman dan keselamatan bersepeda pun diperhatikan dengan memasang rambu-rambu dan lampu lalu lintas. Perlu diketahui juga, pelanggaran lalu lintas bersepeda di Belanda akan dikenakan sangsi yang serius.


Itulah Belanda, suatu kebiasaan dan kepedulian yang patut dicontoh. Bersepeda adalah suatu bentuk inovasi Negeri Oranje yang sudah mendarah daging. Inovasi yang memberi pelajaran tentang penghematan, menyehatkan dan tak terpengaruh dengan naiknnya harga minyak dunia. Dan yang terpenting lagi, bersepeda dapat mengurangi gas emisi yang saat ini digembar-gemborkan sebagai penyebab Global Warming.


Reference :

Negeri Van oranje

Buku Panduan Studi di Belanda



Wednesday, April 7, 2010

Tinggal Nulis Terbanglah ke Belanda...

Saatnya lo tunjukin... ayo guys teman teman semua... kembali di buka kembali di gelar, kompetisi blog bersama nuffic neso indonesia dan dagdigdug.

Hadiahnya gak tanggung tanggung, summer course ke belanda... ke Utrecht men Utrecht, Utrecht Universiteit... keren banget.... kan...

Tinggal nulis... dan terbanglah ke Nederlands... negara sejuta warna....

Temanya ???
Gampang buangat... alah, cuma
“Dutch innovation, in my opinion” masak anda anda semua nggak bisa??? nah makanya buruan, waktunya terbatas hanya sampai tanggal 30 April 2010. . .





Tuesday, March 16, 2010

cinta bukan permainan



entahlah
dari ketinggian yang terjamah ini aku menatap sekitar
aku hanya makhluk kecil
aku hanya titik hitam penuh dosa

aku mengharapkan dia yang nyata nyata telah pergi
aku mengharapkan dia yang tidak mungkin lagi
aku seharusnya sadar diri
memahami sebuah arti

cinta bukan permainan
dan permainan ini juga bukan untuk saling mencinta.


Monday, February 1, 2010

Gejolak


Telah aku mencoba untuk membesitkan diri dalam kebohongan, namun hal itu membuatku rancu dan tak karuan adanya. Aku hanya bisa bermain dalam kemunafikan terus menerus tanpa suatu kenyataan belaka. Tapi hanyalah ini yang bisa aku perbuat, menyakiti diriku sendiri.

Aku seakan terpaku dan tak bisa melakukan apapun. Seolah pesona tangguhnya mendekapku erat pertanda aku tak boleh mengingkarinya. Bahkan senyum itupun yang membuatku tak sanggup menuai kata menjadi kiasan pun juga berkata ingkar bahwa aku lebih baik untuk tidak mengaguminya.

Malamku adalah sebuah tangisan kelam. Rautnya yang selalu membayang membuatku muak tak bertubi. Air mata adalah saksi, bahwa dirinya telah membuatku sedemikian tanpa perlu dikasihi. Lalu, masih pantaskah dia untuk berhak mendapatkan tempat dalam tubuh ku yang mulai renta?

“Tentu saja pantas!!!”

Begitulah nuraniku menjawab. Bahkan nadanya terlalu nyaring dari pada teriakan srigala padang pasir yang melolong dalam gelapnya gurun berdebu.

“Ini kesalahan!!!”

Kemudian akal sehatku memberontak demikian.

“Pikirkan, kau tak mungkin memilikinya utuh, karena dia adalah jiwa yang seharusnya berbeda.”

Aku mulai terkulai akan kebingungan diriku, apakah akal sehatku yang sudah tak mau bertuan denganku atau sebaliknya nuraniku yang telah mengingkari tubuhku?? Kalau sudah begini, aku akan membuka pintu kamarku, menuliskan sesuatu pada buku usangku yang tebal karena coretan penderitaan atas nama cinta yang berbeda. Semua ini karena ulahnya, dirnya dan bukan karena kesalahan atas diriku untuk mencintainya.

Monday, January 18, 2010

Mencintai Rifan

Masih terbesit dibayang lamun ketika aku mengenalnya pertama kali. Perawakan lugu masa-masa SMA. Kenapa aku harus mengenalnya? Bukankah tak mengenalnya itu akan lebih baik. Aku bukannya tak mengerti, ini cinta. Tapi kenapa harus kepadanya, kepada ukiran indah ilahi yang tak terbantahkan dalam setiap helai pahatannya.

Hidungnya yang memagut indah dengan polesan bibir ranum dan dagu yang sempurna. Sorot matanya tajam, menyimpan getar dalam setiap pemandangnya. Rifan, begitulah nama indah yang telah disemaikan dalam dirinya yang sempurna diantara dadanya yang membusung gagah dan aroma jantannya yang memukau.

Disini, didasar hati nun jauh dalam nurani. Mencintainya sama halnya seperti memburu kuda bersayap putih. Terbang kesana kemari menentukan titik fokus, agar peluru tepat tertembus dalam jiwanya. Menggelepar jatuh dan pasrah.

Seribu harap kuhaturkan padanya. Demi cinta yang tak mungkin terbalas. Aku seperti air tenang, yang akan tetap menjadi bening meski keruh yang akan muncul tiba-tiba, ketika sebongkah batu dilemparkan kedalamnya dan memercikkan. Aku bahkan merasa tuhan tidak akan pernah tau tentang apa yang aku rasakan. Tentang lumpur yang ada didalam dasar nurani yang hanya akan menyeruak tiba-tiba. Tapi mengapa Tuhan masih saja menetapkan batas dengan dalil-dalilnya yang sempurna? Dan yang kubutuhkan hanyalah sebongkah batu. Agar air itu tak lagi bening hingga aku kuasa menunjukkan cintaku itu.

Rifan pernah mengurai kata denganku. Ketika indah menggantung dalam tatapannya. Bercerita tentang kehidupan masa sekolah penuh asmara. Mengejar dewi jingga berambut panjang bermahkotakan tahta seribu kerajaan. Idaman lelanange jagad.

Sambutan hangat dari sang dewi, melukiskan betapa besarnya keagungan cinta. Layaknya tersirat kisah adam dan hawa. Dipisahkan tapi tetap dipertemukan.

Terbesit dalam hati kala itu. Apakah ini api? Kenapa harus ada api dalam pertemanan ini? Hingga akhirnya aku sadar. Aku tak bisa melepaskannya. Bahkan untuk sekejap dari pandangan batin dan raga. Aku cemburu, yah aku dihatui rasa cemburu. Namun hal itu tak berlangsung lama. Keputusan meninggalkan dewi jingga membuatku tersenyum. Sesak dada kian memudar berevolusi dalam kesejukan jiwa tak terpatri.

Dan Rifan adalah Rifan. Lukisan indah penguasa jagad. Diperebutkan tanpa celah, dalam hatinya sedikit congkak. Kadang dia membisu dan sedingin lautan es utara penuh misteri. Bukankah lelaki seperti itulah yang memiliki aura sebenarnya. Menurutku.
Kesadaran itu memuncak. Kala aku harus berpisah dengannya. Bukankah seharusnya aku harus tau lebih dahulu, sebelum akhirnya aku harus mengalami hal-hal yang seharusnya bisa aku alami sebelumnya. Andai waktu bisa aku putar kembali.

Sekarang, aku diposisikan sebagai penonton dalam sebuah arena besar dalam gelora. Mengamati setiap detail langkah kehidupannya dari sisi ketidakberdayaan. Sejengkal adalah lebih berarti dari pada aku akan kehilangan jejaknya selamanya.

Bagai sang maestro, dirinya selalu kupuja. Ku banggakan dalam setiap ucapan meski dalam hati. Bayangnya terlalu nyata dalam sebuah kesemuan belaka. Menghias dalam setiap malamku. Terbang melayang bahkan dalam setiap kesendirianku kini.

Raut wajahnya tak tergantikan. Tak ada gerhana yang membuat gelap. Emosinya membara seakan membangkitkan gairah hidupnya yang sedikit kacau balau. Meski ayahnya tiada, dia ayah bagi adik-adiknya. Itulah yang kusuka darinya. Kedigdayan sempurna.

Ketika aku harus berpagut dalam pertemuan yang tak tersengajakan olehnya, namun sudah aku rencanakan sebelumnya. Mulut menjadi kaku. Entah harus berkata apa. Menatapnya dalam-dalam. Salah tingkah aku dibuatnya.

Lemah aku tersungkur. Menatap galau jiwa karenanya. Bayangannya acap kali menghantuiku dengan senyuman indah mempesona. Aroma tubuhnya yang kuinginkan, lengkap dengan dekapan mesra menghangatkan setiap tubuh kami. Bersatu dalam raga dengan cinta dalam jiwa.

Tidak. Dan aku pun tak tahu harus bagaimana. Aku pun pernah mencoba melupakannya. Tapi itu hanya membuatku menderita. Karena hanya dia satu. satu-satunya jiwa yang mampu menjangkitkan virus ronanya dalam nuraniku. Ini masalah hati, dan harus dengan hati pulalah virus ini disembuhkan. Hatinya, hatiku dan itulah yang aku inginkan.

Jangan pernah kau tanyakan kenapa? Kau hanya perlu sedikit mengerti kenapa aku begitu memujamu. Karena keagungan pahatan indah dalam setiap detail parasmu. Bukan. Karena aku sudah terlanjur mengenalmu. Mengenalmu melalui celah perasaan terdalam. Melalui setiap relung yang berpendar merasuki setiap pori tubuhku. Menginfeksiku.

Aku menginginkanmu. Merasakan setiap waktuku bersamamu. Menghiburku dan menggantungkan segala kesahku akan dirimu. Ku sandarkan setiap gundah hatiku dalam pundakmu. Akan kau seka setiap air mata yang mengalir dari mataku. Dan kau akan tidak terima ketika aku disakiti. Karena aku adalah jiwa yang paling berharga dalam hidupmu. Seperti aku menganggapmu yang paling berharga. Itulah yang aku inginkan.

Tak pernah luluh aku sedikitpun. Meski aku mulai membenci kehidupanku. Apakah aku hidup hanya untuk membenci kehidupanku? Bukankah kehidupan itu harus dijalani dan bukan untuk dibenci. Sungguh celakalah aku.

Jiwa ini selalu meronta. Kadang tertawa mengejek melihat batinku tersiksa atas tragedi cinta tak sempurna. Meski aku berusaha tersenyum dan itu hanya pelipur lara semata. Aku telah diperbudak. Diperbudak cinta sesungguhnya. Cinta akan dirimu Rifan.

Aku tak lebih hanya seorang pengecut. Bersembunyi dibalik perasaanku sendiri. Karena dusta adalah derita. Butuh keberanian mengungkap semuanya. Dan aku hanyalah pecundang, yang tak punya keberanian.

Sungguh aku muak dengan semua ini. Mencintai namun tak pernah memiliki. Aku ingin berteriak dengan ketegaran hati kepada penciptanya. “kenapa kau menciptakan dia, jika hanya membuatku didera derita tak bertepih. Enyahkan dia dari kehidupanku. Aku mohon enyahkan dia!” Dan aku pun tersungkur lunglai, menatap semuanya, Semu*.



*Ide cerita : Curahan hati seorang wanita yang mengaku sahabat karibku.

Rifki Aris sandee...

Tuesday, December 8, 2009

sendiri di Jogja

ehm... capek tapi seru... back packer sendirian ke Jogjakarta. taukah kamu teman, aku nulis postingan ini di sebuah warnet kecil ditengah malioboro...