Monday, February 1, 2010

Gejolak


Telah aku mencoba untuk membesitkan diri dalam kebohongan, namun hal itu membuatku rancu dan tak karuan adanya. Aku hanya bisa bermain dalam kemunafikan terus menerus tanpa suatu kenyataan belaka. Tapi hanyalah ini yang bisa aku perbuat, menyakiti diriku sendiri.

Aku seakan terpaku dan tak bisa melakukan apapun. Seolah pesona tangguhnya mendekapku erat pertanda aku tak boleh mengingkarinya. Bahkan senyum itupun yang membuatku tak sanggup menuai kata menjadi kiasan pun juga berkata ingkar bahwa aku lebih baik untuk tidak mengaguminya.

Malamku adalah sebuah tangisan kelam. Rautnya yang selalu membayang membuatku muak tak bertubi. Air mata adalah saksi, bahwa dirinya telah membuatku sedemikian tanpa perlu dikasihi. Lalu, masih pantaskah dia untuk berhak mendapatkan tempat dalam tubuh ku yang mulai renta?

“Tentu saja pantas!!!”

Begitulah nuraniku menjawab. Bahkan nadanya terlalu nyaring dari pada teriakan srigala padang pasir yang melolong dalam gelapnya gurun berdebu.

“Ini kesalahan!!!”

Kemudian akal sehatku memberontak demikian.

“Pikirkan, kau tak mungkin memilikinya utuh, karena dia adalah jiwa yang seharusnya berbeda.”

Aku mulai terkulai akan kebingungan diriku, apakah akal sehatku yang sudah tak mau bertuan denganku atau sebaliknya nuraniku yang telah mengingkari tubuhku?? Kalau sudah begini, aku akan membuka pintu kamarku, menuliskan sesuatu pada buku usangku yang tebal karena coretan penderitaan atas nama cinta yang berbeda. Semua ini karena ulahnya, dirnya dan bukan karena kesalahan atas diriku untuk mencintainya.

Monday, January 18, 2010

Mencintai Rifan

Masih terbesit dibayang lamun ketika aku mengenalnya pertama kali. Perawakan lugu masa-masa SMA. Kenapa aku harus mengenalnya? Bukankah tak mengenalnya itu akan lebih baik. Aku bukannya tak mengerti, ini cinta. Tapi kenapa harus kepadanya, kepada ukiran indah ilahi yang tak terbantahkan dalam setiap helai pahatannya.

Hidungnya yang memagut indah dengan polesan bibir ranum dan dagu yang sempurna. Sorot matanya tajam, menyimpan getar dalam setiap pemandangnya. Rifan, begitulah nama indah yang telah disemaikan dalam dirinya yang sempurna diantara dadanya yang membusung gagah dan aroma jantannya yang memukau.

Disini, didasar hati nun jauh dalam nurani. Mencintainya sama halnya seperti memburu kuda bersayap putih. Terbang kesana kemari menentukan titik fokus, agar peluru tepat tertembus dalam jiwanya. Menggelepar jatuh dan pasrah.

Seribu harap kuhaturkan padanya. Demi cinta yang tak mungkin terbalas. Aku seperti air tenang, yang akan tetap menjadi bening meski keruh yang akan muncul tiba-tiba, ketika sebongkah batu dilemparkan kedalamnya dan memercikkan. Aku bahkan merasa tuhan tidak akan pernah tau tentang apa yang aku rasakan. Tentang lumpur yang ada didalam dasar nurani yang hanya akan menyeruak tiba-tiba. Tapi mengapa Tuhan masih saja menetapkan batas dengan dalil-dalilnya yang sempurna? Dan yang kubutuhkan hanyalah sebongkah batu. Agar air itu tak lagi bening hingga aku kuasa menunjukkan cintaku itu.

Rifan pernah mengurai kata denganku. Ketika indah menggantung dalam tatapannya. Bercerita tentang kehidupan masa sekolah penuh asmara. Mengejar dewi jingga berambut panjang bermahkotakan tahta seribu kerajaan. Idaman lelanange jagad.

Sambutan hangat dari sang dewi, melukiskan betapa besarnya keagungan cinta. Layaknya tersirat kisah adam dan hawa. Dipisahkan tapi tetap dipertemukan.

Terbesit dalam hati kala itu. Apakah ini api? Kenapa harus ada api dalam pertemanan ini? Hingga akhirnya aku sadar. Aku tak bisa melepaskannya. Bahkan untuk sekejap dari pandangan batin dan raga. Aku cemburu, yah aku dihatui rasa cemburu. Namun hal itu tak berlangsung lama. Keputusan meninggalkan dewi jingga membuatku tersenyum. Sesak dada kian memudar berevolusi dalam kesejukan jiwa tak terpatri.

Dan Rifan adalah Rifan. Lukisan indah penguasa jagad. Diperebutkan tanpa celah, dalam hatinya sedikit congkak. Kadang dia membisu dan sedingin lautan es utara penuh misteri. Bukankah lelaki seperti itulah yang memiliki aura sebenarnya. Menurutku.
Kesadaran itu memuncak. Kala aku harus berpisah dengannya. Bukankah seharusnya aku harus tau lebih dahulu, sebelum akhirnya aku harus mengalami hal-hal yang seharusnya bisa aku alami sebelumnya. Andai waktu bisa aku putar kembali.

Sekarang, aku diposisikan sebagai penonton dalam sebuah arena besar dalam gelora. Mengamati setiap detail langkah kehidupannya dari sisi ketidakberdayaan. Sejengkal adalah lebih berarti dari pada aku akan kehilangan jejaknya selamanya.

Bagai sang maestro, dirinya selalu kupuja. Ku banggakan dalam setiap ucapan meski dalam hati. Bayangnya terlalu nyata dalam sebuah kesemuan belaka. Menghias dalam setiap malamku. Terbang melayang bahkan dalam setiap kesendirianku kini.

Raut wajahnya tak tergantikan. Tak ada gerhana yang membuat gelap. Emosinya membara seakan membangkitkan gairah hidupnya yang sedikit kacau balau. Meski ayahnya tiada, dia ayah bagi adik-adiknya. Itulah yang kusuka darinya. Kedigdayan sempurna.

Ketika aku harus berpagut dalam pertemuan yang tak tersengajakan olehnya, namun sudah aku rencanakan sebelumnya. Mulut menjadi kaku. Entah harus berkata apa. Menatapnya dalam-dalam. Salah tingkah aku dibuatnya.

Lemah aku tersungkur. Menatap galau jiwa karenanya. Bayangannya acap kali menghantuiku dengan senyuman indah mempesona. Aroma tubuhnya yang kuinginkan, lengkap dengan dekapan mesra menghangatkan setiap tubuh kami. Bersatu dalam raga dengan cinta dalam jiwa.

Tidak. Dan aku pun tak tahu harus bagaimana. Aku pun pernah mencoba melupakannya. Tapi itu hanya membuatku menderita. Karena hanya dia satu. satu-satunya jiwa yang mampu menjangkitkan virus ronanya dalam nuraniku. Ini masalah hati, dan harus dengan hati pulalah virus ini disembuhkan. Hatinya, hatiku dan itulah yang aku inginkan.

Jangan pernah kau tanyakan kenapa? Kau hanya perlu sedikit mengerti kenapa aku begitu memujamu. Karena keagungan pahatan indah dalam setiap detail parasmu. Bukan. Karena aku sudah terlanjur mengenalmu. Mengenalmu melalui celah perasaan terdalam. Melalui setiap relung yang berpendar merasuki setiap pori tubuhku. Menginfeksiku.

Aku menginginkanmu. Merasakan setiap waktuku bersamamu. Menghiburku dan menggantungkan segala kesahku akan dirimu. Ku sandarkan setiap gundah hatiku dalam pundakmu. Akan kau seka setiap air mata yang mengalir dari mataku. Dan kau akan tidak terima ketika aku disakiti. Karena aku adalah jiwa yang paling berharga dalam hidupmu. Seperti aku menganggapmu yang paling berharga. Itulah yang aku inginkan.

Tak pernah luluh aku sedikitpun. Meski aku mulai membenci kehidupanku. Apakah aku hidup hanya untuk membenci kehidupanku? Bukankah kehidupan itu harus dijalani dan bukan untuk dibenci. Sungguh celakalah aku.

Jiwa ini selalu meronta. Kadang tertawa mengejek melihat batinku tersiksa atas tragedi cinta tak sempurna. Meski aku berusaha tersenyum dan itu hanya pelipur lara semata. Aku telah diperbudak. Diperbudak cinta sesungguhnya. Cinta akan dirimu Rifan.

Aku tak lebih hanya seorang pengecut. Bersembunyi dibalik perasaanku sendiri. Karena dusta adalah derita. Butuh keberanian mengungkap semuanya. Dan aku hanyalah pecundang, yang tak punya keberanian.

Sungguh aku muak dengan semua ini. Mencintai namun tak pernah memiliki. Aku ingin berteriak dengan ketegaran hati kepada penciptanya. “kenapa kau menciptakan dia, jika hanya membuatku didera derita tak bertepih. Enyahkan dia dari kehidupanku. Aku mohon enyahkan dia!” Dan aku pun tersungkur lunglai, menatap semuanya, Semu*.



*Ide cerita : Curahan hati seorang wanita yang mengaku sahabat karibku.

Rifki Aris sandee...

Tuesday, December 8, 2009

sendiri di Jogja

ehm... capek tapi seru... back packer sendirian ke Jogjakarta. taukah kamu teman, aku nulis postingan ini di sebuah warnet kecil ditengah malioboro...

Monday, November 23, 2009

aku ingin tapi tak ingin....

aku masih tak tau, juga mungkin tak perlu tau. tentang kehidupanku mungkin? atau tentang keinginanku? yang jelas aku merasa disetubuhi dengan tubuhku sendiri hingga aku tak sanggup untuk melepaskan naluriku sendiri.

seolah ada terali besar yang menghalangiku, padahal aku ingin keluar, menemuinya. bahkan dia masih tak mau peduli. sejujurnya aku ingin dia peduli. dan entahlah, sampai kapan ini berjalan. sampai kapan jeruji besi penghalang ini bisa terbuka. hingga aku tak perlu di persetubuh oleh tubuhku sendiri.

Friday, November 6, 2009

Catatan Kaki Rifki ; Cerita Dari Bali (27-29 Oktober 2007 / 27-29 Oktober 2009) Part II

Senyenyak nyenyaknya tidur kalau cuma lima jam yah mana cukup. Tapi mau bagaimana lagi, kita semua disini dikejar waktu. Mata masih enggan membelalak, ah kamar mandi masih terpakai tidur lagi sajalah, pikirku.

“hey, ayo bangun , bangun,” terdengar suara wanita dari luar kamar.

Ku lihat sejenak kearah pintu dan subhanallah….. miss Inayah… ya allah kenapa pintunya nggak kalian tutup, seketika aku terhentak dan terbangun. Deni… Syam… huft… aduh miss inayah ngeliat ga yah muka kusutku, rambut acak-acakanku pas bangun tidur… jadi tengsin banget, menjatuhkan harga pasaran saja. Ah, enggak kalik, miss nya cuma menjalankan tugas saja, alih profesi, tukang membangunkan mahasiswa yang molor alias wake up per, hehehehe…..

Belom kelar juga si syam mandi, entah ngapaen dia di kamar mandi, yang jelas aku nggak mau tau dan nggak akan pernah mau tau, yang jelas suara gemericik air dari shower masih terdengar jelas. Takutnya nggak ada suara air, nggak ada suara gemericik, tau-tau tinggal beberapa potong tubuhnya yang dimutilasi leak. Hi… serem banget prend. Kalian tau nggak, katanya di kamar ku itu dulunya tempat asal-muasal suster ngesot ditemukan, makanya aku rada merinding, hiii…

“hoy, ayo lekas mandi,” seru Miss Inayah lagi dari depan kamarnya yang tak jauh dari kamarku.

“Rifki, kamu mandi disini saja, nih kamar mandinya kosong,” suruh Miss Inayah.

Ku sunggingkan senyumku, ah, enggak enak kalau ditolak, tapi…. Masak cowok mandi di kamar cewek. Ehmmmmm…. Ya udahlah nggak pa-pa, sekarang ini bukan masalah cowok sama ceweknya yang jadi masalah, kita dikejar waktu dan semuanya harus tepat.


Mati koen, kamar mandinya gak ada apa-apanya. Yang ada hanya bak besar yang aku ketahui namanya bath up, cermin, shower, tempat sampah, kakus, mana gayungnya buat mandi???? Ya sudahlah mungkin pake shower ajah. Bismillah.

Bolak balik ku putar kerannya, tapi???? Showernya kok nggak nyala yah?? Malah keran bagian bawah nya yang keluar, showernya nggak nyala. Tau nggak airnya yang keluar nggak sederas yang aku kira, kecil banget arusnya. Kapan nih bath up mau penuh kalau begini. Aduh-aduh….. lha trus gimana mandinya, gak ada gayungnya. Kutarik nafasku, ehm…. Ya sudahlah mungkin ditunggu bath up nya penuh baru nyemplung berendam, sabunan, berendam lagi dan selesai.

Air terus mengalir, tapi volumenya kecil banget. Aku mendudukkan diriku yang telanjang bulat mengamati arus air yang tak penuh-penuh. Aduh sampai kapan, sementara shower yang hampir mirip dengan microphone, hanya aku main-mainkan saja, aku goyang-goyangkan dengan harapan tiba-tiba mancur ternyata sia-sia. Hemmmmmmmm, gimana yah ini???

Kupaksakan diriku nyemplung ke dalam bath up meski air masih sedikit banget. Tak sengaja punggung belakangku menyandar ke kran yang mengalir tadi dan what’s up bro, tiba-tiba showernya menyemburkan air deras banget. Aku tersentak, kaget dan mengucap alhamdulillah, akhirnya aku bias mandi juga. Tapi, kok nyala sendiri yah?? Leak? Ah bukan, itu hanya halusinasi saja. Aku amati tombol-tombol diantara kran-kran itu dan ternyata, untuk memfungsikannya hanya menekan tombol tengah itu ke bawah, dan tadi itu kebetulan punggung belakangku tang menekannya secara tidak sengaja. Hem… tuhan memang masih saying kepadaku, masalah mandi saja Dia masih menunjukkan mukjizat-Nya. Hahaha, aku tertawa dalam hati sambil memain-mainkan tombol rahasia itu. Dasar Rifki tolol, goblok dan katrok banget, begini saja nggak bisa. Astofirwo…

Huft, akhirnya, keluar kuga dari kamar mandi. Kejadian itu hanya bikin malu diri sendiri saja. Gimana entar kalo diajak nginep ke Hotel Hilton? Yang ada malah bingung, mana yang kamar mana yang lobbi? Bisa-bisa tidurnya nggak dikamar malah di Lobby. Hahaha…..

Setelah makan pagi dan check out dari hotel, kami ditemani tour guide kami dengan cerita-cerita tentang bali, bail dan bali dalam perjalanan kami menuju HPI atau Himpunan Pramuwisma Indonesia…. Hehehe, salah ding, Pramuwisata maksudnya. Namun sebelum ke situ, kita singgah di galeri galuh yang berada di kabupaten Gianyar. Gianyar kota seni, begitulah maktub Kabupaten Gianyar yang memang memiliki potensi seni tinggi. Pusat dari art di Gianyar adalah UBUD, sampai sampai Julia Robert rela jauh-jauh dari Amerika untuk syuting di sini. Maka dari itu, kita harus bangga punya Bali. I Love Bali Forever…

Selain menjual batik dan souvenir khas bali yang tentunya tanpa mengindahkan hukum tawar menawar, galeri galuh juga menghadirkan sebuah komplek bangunan miniatur rumah adat bali asli, bukan palsu. Uniq dan menggairahkan naluri narsis kami. Kapan lagi aku dan kawan-kawan mau menyalurkan bakat foto geniknya kalau tidak sekarang. Hahaha, satu dua tiga senyum…… Cekrek…. Cekrek sampai puas…..

Sejam kita di sana, dan aku pun tak membeli segelintir barang juga. Ehm…. Bokek men, maunya beli tapi, aku Cuma punya kartu kredit dan di dalam nggak nerima kartu kredit atas nama bank pasar harian. Hahaha…

Entah dimana aku sedikit tak paham, akhirnya aku dan rombongan sampai juga di kantor HPI Bali. Tak begitu besar dan tak begitu kecil. Hanya ada segelintir orang yang menyambut kita dengan senyuman merekah. Om suawasti astu bli…. Om santi santi santi nakal om… minta permen karet gelang… om… wkwkwkwkwkwkwkkkk

Intinya yang baru dibicarakan adalah mengenai Pramuwisata di Bali. Sedikit sedikit aku dapat ilmu lagi. Ternyata kebanyakan Guide itu berbahasa Indonesia, Inggris, Jepang, Korea, Mandarin dan Sekarang Pramuwisata yang dicari dan memang jarang ialah pramuwisata berbahasa Spanyol, Perancis, Italia dan Belanda. What?? Belanda?? Nggak salah dengar? Hahaha, semoga usahaku nggak sia sia belajar Bahasa Belanda, besok-besok bias jadi Pramuwisata di Bali, berkecimpung dengan Bule Nederland dan dapat wanita Nederland juga, asyikkkk…. Ik ben zo blij, mijn vriends…

Hahahaha….. kita ke UBUD…… tepatnya ke BCC, Bali Classic Center. Kok nggak ke Ubud nya sih??? Aku kan pengen ketemu Janeth dee Nafie seorang Australia yang telah menjadi warga Negara Indonesia dan menetap di Ubud serta penggagas Ubud Writers and Readers Festival yang diadakan setiap tahunnya. Dalam event ini seluruh penulis terkenal dunia berkumpul termasuk penulis-penulis muda dari seluruh dunia. Selain Janeth aku juga pengen ke Desa Lothtunduh, tempat Dewi “Dee” Lestari menggambarkan sosok Keenan dalam “Perahu Kertas” nya. Kenaan, Ludhe, Poyan, Jenderla Pilik dan Pangeran Alit. Aku pengen banget tau Lothtunduh sebenarnya.

Tapi, ya sudahlah, kelak saja kalau aku punya kesempatan kesini sendiri, aku akan kemari lagi. Di BCC kami di sambut dengan tarian penyambutan yang di sebut tarian Melasti. Setelah itu kami mengikuti wanita-wanita cantik bali itu beserta rombongan lelaki penabuh gending bali yang khas dengan udeng di kepalanya. Sekarang guide kami sedikit lucu, namanya bli wayan, wayan kulit atao wayan golek yah???

Kami digiring ke dalam sebuah bale yang sudah didesain dengan ornamen-ornamen khas bali. Disini kami disuguhi sebuah tarian bali yang ditarikan oleh dua orang putrid cantik khas dewata. Matanya mendelik-mendelik menakutkan tapi cuantik buanget. Sumpah aku mau pacaran sama dia… hehehe.

Lima belas menit kemudian kami digiring lagi menuju tempat untuk melihat tarian barong. Tak jauh dari situ terdapat sebuah panorama pedesaan yang mencerminkan kehidupan masyarakat bali pedesaan yang telah didesain sedemikian rupa dengan gadis-gadis bali yang memang telah dipersiapkan untuk menempati posisinya seperti gadis dipojokan itu yang sedang membuat canang (wadah sesaji yang dibuat dari janur) di dalam bale bengong. Tapi saying, di sungai kok gak ada gadis yang bali yang mandi yah?? Yang ini mah kurang lengkap rasanya, kok yang wajib dihilangkan dan yang sunnah diwajibkan? Bli-bli, gimana sih. Hehehehe..

Akhirnya kami tiba di sebuah panggung pertunjukan yang didesain seperti tribun langkap dengan meja-meja dan kursi yang tertata mewah. Dari sini kami disuguhi tarian-tarian khas bali yang indah dan mengagumkan. Selain menikmati pertunjukan, kami juga bisa menikmati santapan nusantara yang ditawarkan kedai-kedai makanan disekitar tribun.

Tak puas rasanya jadi penonton, akhirnya aku pun ikut andil turun ke panggung ditemanu penari yang aduhai molek sekali. Sumpah molek banget lah… ehmmm baunya wangi…. Aku menari sebisa mungkin meski tak selihai wanita cantik ini. Ku tatap wajanya, pagutan indah hidungnya, bibir merahnya, tubuhnya, akh….. tuhan shang hyang widi, ampuni aku…. Wanita ini sungguh sayang untuk dilewatkan.

Begitulah, hingga waktu pun mengharuskan aku dan rombongan beranjak. Lagi-lagi waktu, kenapa sih kita harus diperbudak oleh waktu?? Huft. Gumamku. BCC meninggalkan kesan mendalam bagiku, kalbuku dan ragaku seakan tertinggal disana. Aku berharap kelak aku akan menemukan gadis bali yang indah dan lembut sepertinya. Aku akan tinggal di Ubud, desa sejuta seni. Ubud…. Wait me for a moment. And I’ll come back.

Tuesday, November 3, 2009

Catatan Kaki Rifki ; Cerita Dari Bali (27-29 Oktober 2007 / 27-29 Oktober 2009) Part I

Tepat pukul 15.45 bis tiara mas resmi membawa kami berpelesir ke pulau bali. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga belas jam, akhirnya tibalah aku dan kawan-kawan dalam suasana subuh di desa adat sanur. Udara Bali kembali aku hirup setelah dua tahun yang lalu aku terakhir kali menginjakkan kakiku di sini. Hemmmmmmmmmm Bali, dengan segala keunikannya.

Tak sabar rasanya aku ingin segera berlari merasakan putihnya pasir sanur dan indahnya suguhan pencipta dengan apa yang dinamakan sunrise. Ini masih pagi, dan masya allah, begitu ramainya sanur. Beratus lebih muda-mudi tertawa riang gembira menanti sunrise nun indah. Sanur, the real of sunrise.

Aku sempat terkesiap sejenak, tersenyum dalam hatiku. Akh... dulu ditanggal yang sama dan ditempat yang tepat. Aku pernah mengukir sejarah bersama ketiga sahabatku, Yanuar dan Hendra. Menikmati sekaligus melanglang Bali. Dan sekarang, aku akan mengukir kembali bersama sahabat-sahabat seperjuangan yang sangat aku sayangi dan banggakan. Tawa canda aku dan merekan, dia dan semuanya, wau.... love you full guys...

Setelah puas, sebenernya sih nggak puas, tapi memang harus dipuas puasin (hehehe, hypocrite banget seh..) dengan sejuta take gambar yang sudah aku kenangkan bersama kawan-kawan. Sanur kami tinggalkan.

Kedua, sok gaya dan sok sok kan banget deh pokoknya. Setelah makan pagi di hotel puri bali dan menghabiskan wakti dua jam untuk mandi. Guaya tok, adus ae nang hotel, huek... hehehe... perjalanan berlanjut ke Bandara International Ngurah Rai. Let’s go guys... jangan lupa visa dan pasport anda, hehehehehe..., kita meluncur ke terminal kedatangan international.

Aku sih sempet manyun, malah bukan aku saja seh, tampang temen-temen juga begitu.kita nggak jadi ke terminal kedatangan international, tapi malah bus berbelok ke arah kantor utama gedung wasti sabha, angkasa pura I bandara Ngurah Rai. Pikirku, ngapain kita kemari, tapi semuanya itu berubah ketika aku tau kita akan mangadakan sebuah diskusi tentang angkasa pura, bandara, dan pesawat serta tetek bengeknya. Aku puas dan aku senang bisa dapat ilmu lagi. Terbesit dalam kalbuku, kok aku bisa masuk sastra inggris yah?? Kok gak masuk ITB aja ambil Teknik penerbangan biar bisa menjadi operator radar pengendali pesawat. Hehehehe.... pissss....... I love you sastra inggris...

Panasnya bali mulai terasa. Bis membawa rombongan ke arah Kuta Selatan. Tanjung Benoa tepatnya. Di perjalanan memoarku kembali membuka cerita masa laluku dua tahun yang lalu. Bay Pas Ngurah Rai, Perempatan Udayana dan Mc Donal tempatku mengais rezeki demi sesuap nasi dan biaya kuliah tahun depan. “Koran. Koran. Koran. Koran. Bali pos pak?” teriak mulutku dari petang hingga siang di sini. Akh... aku bersyukur dengan keadaanku sekarang, perjuanganku dulu tak sia-sia. Bali adalah mimpiku.

Bus berbelok kearah kiri menuju benoa. Panas menyengat. “pulau penyu mbak, bottom glas mbak,” beberapa makelar kapal menawarkan produk mereka. Aku senang melihat beberapa teman-temanku antusias. Mereka memang harus tau dan menikmati liburan mereka. Sedang aku hanya memilih membuka laptop temanku, mencoba merajut kata duduk dikursi pojok ditemani beberapa cewek yang memang menyenangkan untuk diajak bicara. Asli bule madura, faiq, salis plus zahroh sang petualang.

Kuta tetaplah kuta, pantai yang sudah termashur sejak puluhan tahun lamanya kini tak banyak berubah. Akhirnya, aku di Kuta lagi.... ah jadi kangen sama malam dimana aku berkenalan dengan seseorang. Dimana aku tau tentang dilema cinta dan kejujuran. Disaat aku tau sisi gelap Bali. yah, di depan hard rock sambil menyantap burger asli Mc. Donald.

Aku melepas rinduku sebentar dengan menginjakkan kakiku dan membasahi kembali dengan air laut pantai kuta. Sebentar saja aku sudah berada di tengah-tengah keramaian kuta square. Meski lelah, aku ingin sekejap bernostalgia bersama kenangan lama. Ah disana pikirku, aku dan dirinya, cinta ande-ande lumut.

Sebenarnya aku ingin kabur, ingin menikmati legian. “kamu dimana rif?” sebuah pesan singkat aku terima. Kusenyumkan bibirku, ah dia, “aku di square, kita ketemu di tempat biasa.” Balas smsku.

Sebuah cafe kecil yang tak jauh dari kuta. Ditemani gending bali, tak lebih lima belas menit, dia datang. Senyumnya membuatku lupa jika dulu dia pernah menjadi temanku, sahabatku.

“rifki, tambah kurus saja?”

“Dewa, aku nggak nyangka kita ketemu lagi,” kataku sambil memeluk dirinya. sahabatku yang kini telah dewasa banget..

Setelah bercakap-cakap lebih dari setengah jam, pikiranku mulai mengingat sesuatu. Teman-temanku, hotel, makan malam, bu Rif’ah, Atik. Ya tuhan aku disini bukan untuk jalan sendirian, aku punya acara terjadwal, aku harus pergi, kalau tidak aku bakalan ketinggalan bis ku.

Dengan sedikit berlari aku meninggalkan dewa menuju kuta. Matahari sudah resmi tenggelam. Kuta temaram dan semakin temaram. Jalanan mulai riuh dengan lampu-lampu menghias selasar restoran, hotel-hotel serta diskotik dan bar-bar ternama di sepanjang jalanan Kuta. Di mana yah mereka?? Atik pun, aku tak melihat hidungnya. Atik... dimana kamu, aku kan sudah bilang hubungi aku jika kalian mau beranjak.... aku menarik nafasku dalam-dalam, aku nggak boleh panik, kayak nggak tau Bali saja. Setelah menelepon Krisa, ternyata mereka sudah berada di setnra parkir. Hmmm untunglah.

“sudah ku bilang, biarlah kau bermalam ditempatku saja,” ucap Dewa.

Aku tersenyum, “kau ini ada-ada saja, lain kali saja wa.”

“aku ke lombok minggu depan, aku pindah kesana.” Tukasnya.

“really? Wow keren banget wa, ikut dong,”

waktu diperjalanan ke sentra parkir kami habiskan bercakap-cakap. Tak terasa aku harus berpisah dengan dewa. Dewa, entahlah, aku tak bisa berucap apa apa kecuali terima kasih. Jangan lupa hubungi aku dewa....

Di sentra parkir, ternyata hanya sebagian teman-temanku yang sedng menyantap makanannya. Sebagian lagi masih ada yang membersihakn dirinya di kamar mandi.

“kamu kemana saja prof..” kata salah satu temanku.

“profesor.....” deni menyambutku dengan riang hati.

“prof.. maaf aku tadi kelupaan..” tukas atik.

“rifki..... aku khawatir...” tambah ifa.

“aduh aduh... makasih banget semuanya... aku sayang sama kalian semua....” jawabku sejujur jujurnya... ternyata mereka semua menghawatirkan diriku.

Kaki sudah terlalu lelah, setengah jam berikutnya aku sudah berada ditempat tidur hotel yang cukup lah menurutku. Kupejamkan mataku, untuk kali ini, aku ingin tertidur pulas, tanpa beban dan melayang dalam mimpi-mimpi indahku. Selamat tidur teman....

Sunday, October 18, 2009

Amerika dan Mimpi

http://permiasdcarea.files.wordpress.com/2007/10/usa_3.jpg

Amerika Serikat, wow... Amerika Serikat Guys, Aku pasti bisa kesana!! itu yang selalu terngiang dan tetanam jauh dalam hati, bahwa suatu saat aku pasti bisa menginjakkan kakiku diatas tanah negeri adi daya itu. Sebuah mimpi yang pastinya telah merenggut emosiku untuk meraihnya. sebuah semangat yang selalu menggairahkanku untuk melakukan mewujudkan keinginanku.

Statue of Liberty, Melting Pot, Salad Bowl, Hollywood and Havard University. Dan itu semua yang saya sebutkan hanyalah sebagian kecil dari Icon America sebagai negara superpower dan tangguh serta utuh sebagai negara Adi Daya. Liberty adalah symbol selamat datang, sebuah symbol kesejahteraan dan kebebasan, bahwa amerikalah tempat hidup yang sesungguhnya....

Really, aku merindukan Amerika, meskipun sedikit lebbay, tapi memang kenyataannya begitu. Mau berangkat kesana, tak ada dana yang cukup. Tak mau lah aku jadi illegal dengan membawa dana pas-pasan. Jadinya aku iseng-iseng ikutan DV-Lottery (Green card) meskipun kenyataannya gagal, :-). Aku hanya ingin benar-benar disana, menetap dan bersekolah (kalik aja di havard, Amien..) serta dengan santai dan nyaman aku dapat menikmati Amerika seutuhnya. hehehe... Pastinya dengan tetap membawa almamater kebangsaanku, yakni Indonesia Raya yang ku banggakan.

Aku yakin, bukan hanya ke Roma saja yang banyak jalan untuk kesana, ke Amerika pun juga.keyakinan dan usaha yang total akan membuahkan hasil yang maksimal. Dan Amerikalah yang menginspirasiku untuk berani bermimpi. "bermimpilah, karena tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu." begitu kata Mas Andrea hirata dalam novelnya, Sang Pemimpi.